Ringkas Materi B. Indonesia 7 Buku

Posted: May 1, 2011 in Uncategorized

Materi
Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Alur merupakan jalinan peristiwa dalam karya sastra. Alur bertujuan menciptakan efek tertentu. Pautannya atau jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan waktu atau hubungan sebab
akibat. Penahapan Alur
a. Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya,
tempat kejadian, dan waktu peristiwa.
b. Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.
c. Masalah memuncak : masalah mulai gawat
d. Puncak ketegangan : masalah semakin rumit
e. Ketegangan menurun : masalah mulai mereda
f. Penyelesaian : permasalahan berakhir dengan
bahagia, sedih, atau mengambang.
Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas VIII/Maryati dan Sutopo — Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Untuk mendukung kegiatan itu, aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mendeskripsikan alur novel remaja yang diperdengarkan adalah (1) menemukan konflik dalam novel, (2) melanjutkan penggalan novel yang disajikan menurut versi siswa, dan (3) mengerjakan latihan. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

1. Menemukan Konflik dalam Novel
Bacalah penggalan novel berikut! Perhatikan bagian konflik yang disajikan!
Pada penggalan yang sedikit itu, kamu dapat melihat konflik antara ibu dan
anaknya, yang bernama Jani, tentang masalah mereka berdua. Kehadiran ibu yang tidak diharapkan oleh Jani membuat dirinya marah besar dan mengusir ibunya.
Sebenarnya, konflik dalam novel dapat berwujud konflik lahir dan dapat pula
berupa konflik batin. Pada contoh kutipan tersebut konflik yang disajikan adalah konflik lahir. Di situ pelaku yang sedang berkonflik hadir pada satu latar tertentu. Sementara itu, konflik batin dapat terjadi pada tokoh yang sedang memikirkan sesuatu tanpa harus berhadapan dengan tokoh lainnya.
Sekarang mintalah kawanmu membacakan lagi suatu penggalan novel yang di
dalamnya terdapat konflik. Dari penggalan itu, buatlah deskripsi tentang konflik yang
ada. Jelaskan pula apakah konflik tersebut termasuk konflik lahir atau batin!
”Ibu mau apa, sih, ke sini sekarang? Udah ngga’ ada gunanya, Bu! Lebih baik Ibu pergi aja,
deh dari sini. God, this is like a nightmare for me, l right know,” Jani menghela nafas dalam, masih
dalam ketidakpercayaan.
”Jani… komment pourriez-vous dire cela a moi?” wanita itu berusaha memegang tangan
Jani, namun Jani mengelak.
”Tega? Ibu bilang tega? Bu, dengar ya … Jangan ngebahas masalah tega deh sama saya.
Saya udah ngga’ kenal kata itu lagi, thanks to you.” Tanpa ia sadari air matanya telah bercucuran
keras. Sepertinya semua luka batin Jani yang selama ini ia pendam dan tutup-tutupi, perlahan
terbuka kembali.
“Anjani!” teriak ibu yang juga mulai menitikkan air matanya.
152 Kalo biasanya, anak cowok susah banget dekat sama bokapnya… Beda dengan keadaan gue
dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia juga
orangnya super cool and asyik abis. …

2. Melanjutkan Penggalan Novel menurut Versi Siswa
Pada bagian ini kamu akan berlatih membuat novel dengan cara melanjutkan
penggalan novel yang telah ada. Cara ini tidak sulit. Namun, agar ceritamu nanti
menarik, jangan lupa hadirkan konflik di dalamnya. Itu saja tidak cukup. Penghadiran
latar yang sesuai dengan isi cerita juga sangat penting. Nah, kalau seluruhnya sudah
tertampung di dalamnya, tinggal penyelerasian bahasanya. Jika bahasa yang digunakan dalam kutipan penggalan itu bahasa gaul, lanjutan ceritamu harus pula menggunakan gaya yang sama.
Sekarang, lakukanlah petunjuk tersebut dalam melanjutkan penulisan penggalan
novel berikut!

Untuk memberikan rangsangan yang berbeda, cobalah sekali lagi kawanmu yang lain diminta membacakan sebuah penggalan novel, selanjutnya lanjutkan penggalan tersebut dengan cara menuliskannya pada buku latihan!

Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4/Kisyani Laksono, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja

Tahukah kamu alur cerita? Alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang saling berhubungan. Tahapan alur adalah sebagai berikut.

a. Pengenalan (Eksposisi)
Tahap ini pengarang mengenalkan tokoh, setting, dan masalah yang dihadapi tokoh.
b. Timbulnya konflik
Tokoh mengalami konflik dalam memecahkan masalah.
c. Konflik memuncak (Rumitan)
Konflik tokoh bertambah rumit dan menajam.
d. Puncak masalah (Klimaks)
Konflik yang dialami tokoh mencapai titik puncak.
e. Pemecahan masalah (Konklusi)

Akhir sebuah cerita dengan nasib masing-masing tokoh. Tahapan-tahapan alur dalam cerpen tidak selalu urut sesuai tahapan di atas. Jika penyajiannya sesuai tahapan di atas disebut alur maju. Apabila cerita dimulai dari pemecahan masalah disebut alur mundur.

SETYORINI, Yulianti
Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII/Yulianti Setyorini,Wahono
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Menyimak dan Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Sebuah cerita selalu berawal dan akan berakhir. Peristiwa yang jalinmenjalin
dari awal sampai akhir disebut alur cerita atau plot. Sebagai rangkaian
sebuah peristiwa, alur menampilkan konflik-konflik, baik konflik besar maupun
konflik kecil. Dalam alur akan dijumpai penahapan alur sampai dengan puncakpuncak
konflik.

Konflik-konflik dalam alur dapat berupa konflik internal dan konflik
eksternal. Konflik internal (konflik batin) adalah konflik yang dirasakan dalam
diri seorang pelaku. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang
pelaku dengan pelaku lainnya. Konflik eksternal juga dapat terjadi antara
seorang pelaku dengan alam atau bahkan dengan Tuhannya.

Jika ditinjau dari cara mengakhiri cerita, terdapat dua jenis alur, yaitu alur
terbuka dan alur tertutup. Pada alur terbuka, akhir cerita itu masih menyisakan
pertanyaan dalam diri pembaca tentang bagaimana nasib pelaku atau tokoh
cerita itu. Cerita diakhiri dengan alur tertutup manakala cerita itu benar-benar
selesai tanpa menimbulkan pertanyaan lanjutan dalam diri pembaca.

Jika ditinjau dari suasana hati tokoh atau pelaku utama dalam akhir cerita,
alur dapat digolongkan menjadi dua, yaitu alur akhir bahagia (happy ending)
dan alur akhir duka (tragedy ending). Alur berakhir bahagia apabila pelaku
utama menemukan kebahagiaan pada akhir cerita, sedangkan alur berakhir
duka manakala tokoh utama menemui penderitaan atau bahkan kematian pada
akhir cerita.
Bahasa Indonesia 2: bahasa kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII/oleh Sarwiji Suwandi dan Sutarmo.— Cet.1.— Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan)
Sebagaimana kalian ketahui, bahwa alur atau plot memiliki
tiga jenis, yaitu berikut.
1. Alur maju, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita secara urut dari awal sampai akhir dengan urutan waktu yang terus maju. Misalnya kejadian pada bulan Januari, kemudian dilanjut dengan kisah pada bulan Februari, Maret, Juni, dan seterusnya hingga cerita berakhir.
2. Alur mundur, yaitu alur yang menyampaikan suatu jalinan cerita urutan waktu yang terkini hingga waktu yang paling lampau atau dari kisah yang terakhir hingga pada awal mula kejadian kisah tersebut. Misalnya novel itu diawali pada kisah yang Tujuan Pembelajaran terjadi bulan Desember, kemudian mengulas kisah bulan November, Oktober, dan seterusnya.
3. Alur maju mundur, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita dalam urutan waktu yang beragam atau sebagian beralur maju dan sebagian beralur mundur.
Berkaitan dengan kutipan novel yang kalian simak, kalian dapat menyimpulkan mengenai alur yang dibangun dalam kutipan novel tersebut. Secara umum alur pada kutipan tersebut merupakan jenis alur maju. Hal ini ditandai dengan perjalanan cerita yang berawal dari masa yang lampau menuju masa ke depan; yaitu menceritakan suatu kejadian pada hari Minggu yang diawali dari kejadian-kejadian pada hari Sabtu. Namun demikian, alur yang dibangun pada novel tersebut tidak secara keseluruhan merupakan alur maju. Ada sebuah kalimat yang menunjukkan adanya perjalanan cerita yang menuju ke waktu yang lampau. Artinya menunjukkan bahwa dalam cerita tersebut juga terdapat alur mundur. Kalimat yang menandakan hal tersebut adalah kalimat pertama dari kutipan yang menyatakan: Musim dingin jatuh pada suatu hari Minggu saat orang keluar dari gereja. Akan tetapi, kalimat selanjutnya justru mengisahkan cerita pada hari sebelumnya Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. ….
Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2 : Untuk SMP/MTs Kelas VIII/oleh Asep Yudha Wirajaya dan Sudarmawarti; editor Siti Aminah. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
C. Membaca Novel

Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur intrinsik
tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar kejadian atau
peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel. Alur terbagi
dalam tiga jenis, yaitu:
1. alur maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2. alur mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke
masa lalu,
3. alur campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan
dua macam alur di atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan tokoh yang menjadi pelaku
dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut mempunyai karakterisasi
masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas, pemalu dan
sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya.
Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar waktu,
dan latar suasana.
Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastram Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII/oleh Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

D. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan) yang Dibacakan

Mendeskripsikan alur suatu novel yang dibacakan bukanlah suatu hal yang mudah
dilakukan. Kegiatan tersebut jauh lebih sulit dibandingkan apabila novel tersebut kamu baca
sendiri. Ada tiga kegiatan yang kamu lakukan ketika mendeskripsikan alur novel yang
dibacakan, yaitu mendengarkan, memahami, dan mendeskripsikan alur. Kegiatan tersebut
membutuhkan konsentrasi tinggi sebab dilaksanakan secara bersamaan.
Untuk lebih memantapkan kemampuanmu dalam mendengarkan pembacaan novel,
berikut disajikan bagian kelanjutan novel berjudul Sundus.
Bahan simakan:
Sundus
Kedua
Namaku Sundusiyah, orang biasa memanggilku Sundus atau cukup dengan
Dus saja. Terdengar lucu memang. Tetapi apabila sering membaca al-Qur’an, di
dalamnya; orang tahu banyak sekali akan dijumpai kata sundusiyah artinya kurang
lebih adalah “sutera halus”. Mungkin orangtuaku berharap supaya aku berperilaku
sehalus sutera. Semoga. Amien.
Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat konservatif, teguh memegang
prinsip serta adat yang berlaku, yang menurutku terlalu kaku. Sejak kecil aku dididik
dengan sangat disiplin terutama dalam hal yang berhubungan dengan ibadah,
walaupun aku belum dikenai kewajiban karena memang aku belum mendapat haid.
Orangtuaku pada saat-saat tertentu selalu mengajakku ke musholla di samping
rumah. Belajar mengaji al-Quran setelah shalat Maghrib, kemudian mengaji kitab
kuning seusai sholat Isya’. Sesudah sholat Subuh pun aku diharuskan setor hafalan
surat-surat pendek dan surat-surat penting dalam al-Quran kepada ayahku. Bagiku
beliau adalah sosok ayah sekaligus guru yang sangat keras dalam mendidik serta
mengajar anak-anaknya.
Sekolah Dasar kulalui dengan prestasi yang membanggakan orangtuaku. Aku
selalu berada pada peringkat pertama di kelasku, aku tidak bisa menafikan peran
ibuku yang dengan telaten selalu memberiku minuman suplemen untuk kecerdasan
otak setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. Aku bahkan tidak sempat belajar
karena banyaknya kegiatan harian yang harus kulakukan. Belajar hanya kulakukan
ketika ada pekerjaan rumah dan ujian saja, tetapi walaupun begitu posisi juara selalu
ada di tanganku. Kata guru-guruku aku anak yang cerdas. Memang setiap kali guru
menerangkan, aku dengan saksama mendengarkan dan secara spontan akan bertanya
hingga sering membuat guruku gelagapan. Waktu bermain pun hampir tidak kupunyai,
masa kecilku bisa dibilang kurang bahagia. Sebagai contoh pernah aku bermain
sepulang sekolah dengan beberapa temanku, tidak begitu lama kemudian aku dijemput
oleh nenekku, diajak pulang dengan berbagai alasan: belajarlah, istirahat, dan yang
tidak paling aku sukai adalah membantu memasak. Masih terngiang kata-kata
nenekku “wong wedhok iku balike ning pawon.”
Jiwa berontakku sudah mulai muncul ketika aku Sekolah Menengah Tingkat
Pertama. Aku mulai berani memberikan argumen apabila ayahku menyuruhku
untuk berbuat sesuatu dengan nada tekanan. Ayah sering marah-marah karena
aku dianggap sudah mulai membantah, sering aku dibuat menangis, dan buntutnya
aku harus menanggung malu, ketika di sekolah mataku terlihat bengkak, akibat
tangisan semalam sebelum tidur. Memang sudah menjadi kebiasaanku, aku tidak
mau memperlihatkan airmata di depan ayahku, karena aku tidak ingin dibilang
sebagai anak manja dan cengeng, aku lebih memperlihatkan kekokohanku di depan
siapa pun, mungkin ini juga yang menyebabkanku dipilih menjadi ketua OSIS.
Aku semakin percaya diri, berprestasi dan yang paling aku sukai adalah aku jadi
ditakuti oleh semua laki-laki. Anak buahku mayoritas laki-laki dan aku mampu
menjadi leadership. Bangga memang, walaupun begitu ketika aku kembali ke
rumah aku harus bersikap dan bersifat sebagi anak manis yang selalu patuh
terhadap semua yang diinginkan ayahku.
Aku beranjak menjadi gadis remaja, hal ini kusadari ketika aku mulai kedatangan
tamu bulanan pertama. Malam itu seolah-olah ada sesuatu yang mengaduk-aduk
perutku, aku mencoba mengingat apakah aku salah makan seharian sehingga perutku
sakit sekali, sakit yang belum pernah aku rasakan. Aku jungkir balik sendiri, ingin
menjerit tetapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.
”Tuhan apakah aku akan mati?” batinku.
Hampir semalaman aku meregang kesakitan tanpa bisa berbuat banyak. Jam
tiga malam ibuku bangun ketika melewati kamarku, beliau melihat lampu kamarku
hidup, ibuku masuk untuk mematikannya, dilihatnya aku sedang merintih memegang
perut. Ibuku panik sekali, lalu membangunkan ayah dan entah setelah dibacakan
sesuatu oleh ayahku kemudian aku tertidur. Aku terkejut sekali ketika bangun,
alas tidurku dipenuhi dengan darah segar. Aku takut. Spontan aku menjerit, ibuku
kemudian datang dan langsung menciumku, ibu gembira sekali, lirih kudengar ibu
mengatakan, ”Anakku kini telah perawan.” Risih dan jijik aku melihat semburat
merah kehitaman yang kadang kental, namun di lain waktu juga encer. Ibu yang
mengajariku untuk memakai pembalut supaya tidak bocor. Walaupun demikian, aku
tetap saja waswas, sering kali aku menoleh ke belakang takut tembus, gaya jalanku
juga lain seolah-olah ada sesuatu ganjalan yang membuat jalanku menjadi sedikit
terkangkang. Oleh ibu, aku dinasihati: perempuan yang sedang haid tidak boleh
sholat dan puasa. Waktu itu aku gembira sekali, mendengar nasihat ibu yang satu
ini. ”Enak ya jadi perempuan,” pikirku.
Hampir satu minggu aku mengalami haid. Waktu-waktu berikutnya aku
memerhatikan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Tonjolan yang ada di dadaku
semakin hari kurasakan semakin membesar, pinggulku juga semakin lebar, bajubaju
yang kupakai mulai sempit.
”Oh Tuhan, apalagi ini,” gumamku dalam hati. Aku beranikan diri bertanya
kepada ibu, dengan senyum ibu memberi penjelasan yang detail.
”Itu semua wajar dialami oleh perempuan yang sedang puber,” kata ibu.
”Apa itu puber Bu?” tanyaku.
”Masa puber adalah masa di mana terjadi peralihan seseorang dari anak-anak
menuju remaja. Nah, hal itu bisa dilihat dengan berbagai tanda-tanda secara fisik,
jika perempuan dia mengalami haid atau darah yang keluar secara rutin menurut
siklusnya sebulan sekali kemudian diiringi dengan membesarnya payudara, tumbuh
rambut di bagian tertentu, kemudian pinggul agak melebar serta terjadi perubahan
pada suara, yaitu terdengar agak parau.
”Apakah itu terjadi pada anak perempuan saja Bu…?” dengan cepat aku
menyela.
”Tidak,” kemudian ibu melanjutkan penjelasannya.
”Anak laki-laki pun mengalami hal itu, tetapi dengan tanda-tanda yang berbeda.
Biasanya ditandai dengan mimpi basah, tumbuh jakun pada lehernya, mulai muncul
pula kumis, dan suaranya berubah menjadi serak.”
”Oh begitu,” jawabku setelah mendengar penjelasan ibu.
”Oh iya Bu, satu lagi, kenapa to, kemarin pada waktu malam sebelum paginya
aku haid, kok perutku sakit sekali, padahal aku tidak makan rujak atau sambal pada
siang hari sebelumnya?” tanyaku lagi.
”Oh itu wajar terjadi pada perempuan yang belum menikah pada saat akan
terjadi haid. Haid itu sendiri adalah darah yang berada di indung telur, karena tidak
adanya pembuahan maka darah tersebut akhirnya luruh, dan memang karena jalan
keluarnya sempit maka timbullah gesekan pada perut sehingga menyebabkan sakit.
Jadi hal tersebut wajar terjadi pada setiap perempuan.”
”Terima kasih Bu ya…?”
Aku sekarang menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari Ibu.
(Sumber: Sundus, halaman 9-17 karya Istiah Marzuki)

Setelah kamu mendengarkan pembacaan kelanjutan novel berjudul Sundus tersebut,
dapatkah kamu mendeskripsikan alurnya? Alur sering kali disamakan dengan kerangka cerita.
Terdapat tiga teknik alur cerita, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (flash back), serta
alur majemuk (compound plot).
Novel Sundus bercerita tentang seorang wanita bernama Sundus. Sundus digambarkan
sebagai seorang remaja yang mempunyai disiplin dan prinsip serta taat beribadah. Namun
demikian, Sundus merupakan seorang pemberontak. Sundus tidak menyukai aturan-aturan
yang terlalu kaku dan mengikat. Dalam novel tersebut, Sundus tengah menceritakan
pengalamannya saat mengalami puber untuk pertama kalinya. Sundus menceritakan betapa
kaget dan takutnya saat mengalami puber pertama kali. Sundus juga memunculkan sosok
ibu yang menjaga dan memberi pengarahan padanya.

Bacalah dalam hati novel tersebut, lalu kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana kehidupan keluarga tokoh utama dalam novel tersebut?
2. Apa saja kelebihan tokoh utama novel tersebut?
3. Bagaimana perilaku tokoh utama ketika menjabat ketua OSIS di SMP?
4. Apakah masa puber itu?
5. Amanat apa yang bisa kamu petik dari cuplikan novel tersebut?
Materi
Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Alur merupakan jalinan peristiwa dalam karya sastra. Alur bertujuan menciptakan efek tertentu. Pautannya atau jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan waktu atau hubungan sebab
akibat. Penahapan Alur
a. Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya,
tempat kejadian, dan waktu peristiwa.
b. Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.
c. Masalah memuncak : masalah mulai gawat
d. Puncak ketegangan : masalah semakin rumit
e. Ketegangan menurun : masalah mulai mereda
f. Penyelesaian : permasalahan berakhir dengan
bahagia, sedih, atau mengambang.
Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas VIII/Maryati dan Sutopo — Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Untuk mendukung kegiatan itu, aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mendeskripsikan alur novel remaja yang diperdengarkan adalah (1) menemukan konflik dalam novel, (2) melanjutkan penggalan novel yang disajikan menurut versi siswa, dan (3) mengerjakan latihan. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

1. Menemukan Konflik dalam Novel
Bacalah penggalan novel berikut! Perhatikan bagian konflik yang disajikan!
Pada penggalan yang sedikit itu, kamu dapat melihat konflik antara ibu dan
anaknya, yang bernama Jani, tentang masalah mereka berdua. Kehadiran ibu yang tidak diharapkan oleh Jani membuat dirinya marah besar dan mengusir ibunya.
Sebenarnya, konflik dalam novel dapat berwujud konflik lahir dan dapat pula
berupa konflik batin. Pada contoh kutipan tersebut konflik yang disajikan adalah konflik lahir. Di situ pelaku yang sedang berkonflik hadir pada satu latar tertentu. Sementara itu, konflik batin dapat terjadi pada tokoh yang sedang memikirkan sesuatu tanpa harus berhadapan dengan tokoh lainnya.
Sekarang mintalah kawanmu membacakan lagi suatu penggalan novel yang di
dalamnya terdapat konflik. Dari penggalan itu, buatlah deskripsi tentang konflik yang
ada. Jelaskan pula apakah konflik tersebut termasuk konflik lahir atau batin!
”Ibu mau apa, sih, ke sini sekarang? Udah ngga’ ada gunanya, Bu! Lebih baik Ibu pergi aja,
deh dari sini. God, this is like a nightmare for me, l right know,” Jani menghela nafas dalam, masih
dalam ketidakpercayaan.
”Jani… komment pourriez-vous dire cela a moi?” wanita itu berusaha memegang tangan
Jani, namun Jani mengelak.
”Tega? Ibu bilang tega? Bu, dengar ya … Jangan ngebahas masalah tega deh sama saya.
Saya udah ngga’ kenal kata itu lagi, thanks to you.” Tanpa ia sadari air matanya telah bercucuran
keras. Sepertinya semua luka batin Jani yang selama ini ia pendam dan tutup-tutupi, perlahan
terbuka kembali.
“Anjani!” teriak ibu yang juga mulai menitikkan air matanya.
152 Kalo biasanya, anak cowok susah banget dekat sama bokapnya… Beda dengan keadaan gue
dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia juga
orangnya super cool and asyik abis. …

2. Melanjutkan Penggalan Novel menurut Versi Siswa
Pada bagian ini kamu akan berlatih membuat novel dengan cara melanjutkan
penggalan novel yang telah ada. Cara ini tidak sulit. Namun, agar ceritamu nanti
menarik, jangan lupa hadirkan konflik di dalamnya. Itu saja tidak cukup. Penghadiran
latar yang sesuai dengan isi cerita juga sangat penting. Nah, kalau seluruhnya sudah
tertampung di dalamnya, tinggal penyelerasian bahasanya. Jika bahasa yang digunakan dalam kutipan penggalan itu bahasa gaul, lanjutan ceritamu harus pula menggunakan gaya yang sama.
Sekarang, lakukanlah petunjuk tersebut dalam melanjutkan penulisan penggalan
novel berikut!

Untuk memberikan rangsangan yang berbeda, cobalah sekali lagi kawanmu yang lain diminta membacakan sebuah penggalan novel, selanjutnya lanjutkan penggalan tersebut dengan cara menuliskannya pada buku latihan!

Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4/Kisyani Laksono, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja

Tahukah kamu alur cerita? Alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang saling berhubungan. Tahapan alur adalah sebagai berikut.

a. Pengenalan (Eksposisi)
Tahap ini pengarang mengenalkan tokoh, setting, dan masalah yang dihadapi tokoh.
b. Timbulnya konflik
Tokoh mengalami konflik dalam memecahkan masalah.
c. Konflik memuncak (Rumitan)
Konflik tokoh bertambah rumit dan menajam.
d. Puncak masalah (Klimaks)
Konflik yang dialami tokoh mencapai titik puncak.
e. Pemecahan masalah (Konklusi)

Akhir sebuah cerita dengan nasib masing-masing tokoh. Tahapan-tahapan alur dalam cerpen tidak selalu urut sesuai tahapan di atas. Jika penyajiannya sesuai tahapan di atas disebut alur maju. Apabila cerita dimulai dari pemecahan masalah disebut alur mundur.

SETYORINI, Yulianti
Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII/Yulianti Setyorini,Wahono
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Menyimak dan Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Sebuah cerita selalu berawal dan akan berakhir. Peristiwa yang jalinmenjalin
dari awal sampai akhir disebut alur cerita atau plot. Sebagai rangkaian
sebuah peristiwa, alur menampilkan konflik-konflik, baik konflik besar maupun
konflik kecil. Dalam alur akan dijumpai penahapan alur sampai dengan puncakpuncak
konflik.

Konflik-konflik dalam alur dapat berupa konflik internal dan konflik
eksternal. Konflik internal (konflik batin) adalah konflik yang dirasakan dalam
diri seorang pelaku. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang
pelaku dengan pelaku lainnya. Konflik eksternal juga dapat terjadi antara
seorang pelaku dengan alam atau bahkan dengan Tuhannya.

Jika ditinjau dari cara mengakhiri cerita, terdapat dua jenis alur, yaitu alur
terbuka dan alur tertutup. Pada alur terbuka, akhir cerita itu masih menyisakan
pertanyaan dalam diri pembaca tentang bagaimana nasib pelaku atau tokoh
cerita itu. Cerita diakhiri dengan alur tertutup manakala cerita itu benar-benar
selesai tanpa menimbulkan pertanyaan lanjutan dalam diri pembaca.

Jika ditinjau dari suasana hati tokoh atau pelaku utama dalam akhir cerita,
alur dapat digolongkan menjadi dua, yaitu alur akhir bahagia (happy ending)
dan alur akhir duka (tragedy ending). Alur berakhir bahagia apabila pelaku
utama menemukan kebahagiaan pada akhir cerita, sedangkan alur berakhir
duka manakala tokoh utama menemui penderitaan atau bahkan kematian pada
akhir cerita.
Bahasa Indonesia 2: bahasa kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII/oleh Sarwiji Suwandi dan Sutarmo.— Cet.1.— Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan)
Sebagaimana kalian ketahui, bahwa alur atau plot memiliki
tiga jenis, yaitu berikut.
1. Alur maju, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita secara urut dari awal sampai akhir dengan urutan waktu yang terus maju. Misalnya kejadian pada bulan Januari, kemudian dilanjut dengan kisah pada bulan Februari, Maret, Juni, dan seterusnya hingga cerita berakhir.
2. Alur mundur, yaitu alur yang menyampaikan suatu jalinan cerita urutan waktu yang terkini hingga waktu yang paling lampau atau dari kisah yang terakhir hingga pada awal mula kejadian kisah tersebut. Misalnya novel itu diawali pada kisah yang Tujuan Pembelajaran terjadi bulan Desember, kemudian mengulas kisah bulan November, Oktober, dan seterusnya.
3. Alur maju mundur, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita dalam urutan waktu yang beragam atau sebagian beralur maju dan sebagian beralur mundur.
Berkaitan dengan kutipan novel yang kalian simak, kalian dapat menyimpulkan mengenai alur yang dibangun dalam kutipan novel tersebut. Secara umum alur pada kutipan tersebut merupakan jenis alur maju. Hal ini ditandai dengan perjalanan cerita yang berawal dari masa yang lampau menuju masa ke depan; yaitu menceritakan suatu kejadian pada hari Minggu yang diawali dari kejadian-kejadian pada hari Sabtu. Namun demikian, alur yang dibangun pada novel tersebut tidak secara keseluruhan merupakan alur maju. Ada sebuah kalimat yang menunjukkan adanya perjalanan cerita yang menuju ke waktu yang lampau. Artinya menunjukkan bahwa dalam cerita tersebut juga terdapat alur mundur. Kalimat yang menandakan hal tersebut adalah kalimat pertama dari kutipan yang menyatakan: Musim dingin jatuh pada suatu hari Minggu saat orang keluar dari gereja. Akan tetapi, kalimat selanjutnya justru mengisahkan cerita pada hari sebelumnya Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. ….
Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2 : Untuk SMP/MTs Kelas VIII/oleh Asep Yudha Wirajaya dan Sudarmawarti; editor Siti Aminah. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
C. Membaca Novel

Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur intrinsik
tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar kejadian atau
peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel. Alur terbagi
dalam tiga jenis, yaitu:
1. alur maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2. alur mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke
masa lalu,
3. alur campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan
dua macam alur di atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan tokoh yang menjadi pelaku
dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut mempunyai karakterisasi
masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas, pemalu dan
sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya.
Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar waktu,
dan latar suasana.
Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastram Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII/oleh Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

D. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan) yang Dibacakan

Mendeskripsikan alur suatu novel yang dibacakan bukanlah suatu hal yang mudah
dilakukan. Kegiatan tersebut jauh lebih sulit dibandingkan apabila novel tersebut kamu baca
sendiri. Ada tiga kegiatan yang kamu lakukan ketika mendeskripsikan alur novel yang
dibacakan, yaitu mendengarkan, memahami, dan mendeskripsikan alur. Kegiatan tersebut
membutuhkan konsentrasi tinggi sebab dilaksanakan secara bersamaan.
Untuk lebih memantapkan kemampuanmu dalam mendengarkan pembacaan novel,
berikut disajikan bagian kelanjutan novel berjudul Sundus.
Bahan simakan:
Sundus
Kedua
Namaku Sundusiyah, orang biasa memanggilku Sundus atau cukup dengan
Dus saja. Terdengar lucu memang. Tetapi apabila sering membaca al-Qur’an, di
dalamnya; orang tahu banyak sekali akan dijumpai kata sundusiyah artinya kurang
lebih adalah “sutera halus”. Mungkin orangtuaku berharap supaya aku berperilaku
sehalus sutera. Semoga. Amien.
Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat konservatif, teguh memegang
prinsip serta adat yang berlaku, yang menurutku terlalu kaku. Sejak kecil aku dididik
dengan sangat disiplin terutama dalam hal yang berhubungan dengan ibadah,
walaupun aku belum dikenai kewajiban karena memang aku belum mendapat haid.
Orangtuaku pada saat-saat tertentu selalu mengajakku ke musholla di samping
rumah. Belajar mengaji al-Quran setelah shalat Maghrib, kemudian mengaji kitab
kuning seusai sholat Isya’. Sesudah sholat Subuh pun aku diharuskan setor hafalan
surat-surat pendek dan surat-surat penting dalam al-Quran kepada ayahku. Bagiku
beliau adalah sosok ayah sekaligus guru yang sangat keras dalam mendidik serta
mengajar anak-anaknya.
Sekolah Dasar kulalui dengan prestasi yang membanggakan orangtuaku. Aku
selalu berada pada peringkat pertama di kelasku, aku tidak bisa menafikan peran
ibuku yang dengan telaten selalu memberiku minuman suplemen untuk kecerdasan
otak setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. Aku bahkan tidak sempat belajar
karena banyaknya kegiatan harian yang harus kulakukan. Belajar hanya kulakukan
ketika ada pekerjaan rumah dan ujian saja, tetapi walaupun begitu posisi juara selalu
ada di tanganku. Kata guru-guruku aku anak yang cerdas. Memang setiap kali guru
menerangkan, aku dengan saksama mendengarkan dan secara spontan akan bertanya
hingga sering membuat guruku gelagapan. Waktu bermain pun hampir tidak kupunyai,
masa kecilku bisa dibilang kurang bahagia. Sebagai contoh pernah aku bermain
sepulang sekolah dengan beberapa temanku, tidak begitu lama kemudian aku dijemput
oleh nenekku, diajak pulang dengan berbagai alasan: belajarlah, istirahat, dan yang
tidak paling aku sukai adalah membantu memasak. Masih terngiang kata-kata
nenekku “wong wedhok iku balike ning pawon.”
Jiwa berontakku sudah mulai muncul ketika aku Sekolah Menengah Tingkat
Pertama. Aku mulai berani memberikan argumen apabila ayahku menyuruhku
untuk berbuat sesuatu dengan nada tekanan. Ayah sering marah-marah karena
aku dianggap sudah mulai membantah, sering aku dibuat menangis, dan buntutnya
aku harus menanggung malu, ketika di sekolah mataku terlihat bengkak, akibat
tangisan semalam sebelum tidur. Memang sudah menjadi kebiasaanku, aku tidak
mau memperlihatkan airmata di depan ayahku, karena aku tidak ingin dibilang
sebagai anak manja dan cengeng, aku lebih memperlihatkan kekokohanku di depan
siapa pun, mungkin ini juga yang menyebabkanku dipilih menjadi ketua OSIS.
Aku semakin percaya diri, berprestasi dan yang paling aku sukai adalah aku jadi
ditakuti oleh semua laki-laki. Anak buahku mayoritas laki-laki dan aku mampu
menjadi leadership. Bangga memang, walaupun begitu ketika aku kembali ke
rumah aku harus bersikap dan bersifat sebagi anak manis yang selalu patuh
terhadap semua yang diinginkan ayahku.
Aku beranjak menjadi gadis remaja, hal ini kusadari ketika aku mulai kedatangan
tamu bulanan pertama. Malam itu seolah-olah ada sesuatu yang mengaduk-aduk
perutku, aku mencoba mengingat apakah aku salah makan seharian sehingga perutku
sakit sekali, sakit yang belum pernah aku rasakan. Aku jungkir balik sendiri, ingin
menjerit tetapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.
”Tuhan apakah aku akan mati?” batinku.
Hampir semalaman aku meregang kesakitan tanpa bisa berbuat banyak. Jam
tiga malam ibuku bangun ketika melewati kamarku, beliau melihat lampu kamarku
hidup, ibuku masuk untuk mematikannya, dilihatnya aku sedang merintih memegang
perut. Ibuku panik sekali, lalu membangunkan ayah dan entah setelah dibacakan
sesuatu oleh ayahku kemudian aku tertidur. Aku terkejut sekali ketika bangun,
alas tidurku dipenuhi dengan darah segar. Aku takut. Spontan aku menjerit, ibuku
kemudian datang dan langsung menciumku, ibu gembira sekali, lirih kudengar ibu
mengatakan, ”Anakku kini telah perawan.” Risih dan jijik aku melihat semburat
merah kehitaman yang kadang kental, namun di lain waktu juga encer. Ibu yang
mengajariku untuk memakai pembalut supaya tidak bocor. Walaupun demikian, aku
tetap saja waswas, sering kali aku menoleh ke belakang takut tembus, gaya jalanku
juga lain seolah-olah ada sesuatu ganjalan yang membuat jalanku menjadi sedikit
terkangkang. Oleh ibu, aku dinasihati: perempuan yang sedang haid tidak boleh
sholat dan puasa. Waktu itu aku gembira sekali, mendengar nasihat ibu yang satu
ini. ”Enak ya jadi perempuan,” pikirku.
Hampir satu minggu aku mengalami haid. Waktu-waktu berikutnya aku
memerhatikan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Tonjolan yang ada di dadaku
semakin hari kurasakan semakin membesar, pinggulku juga semakin lebar, bajubaju
yang kupakai mulai sempit.
”Oh Tuhan, apalagi ini,” gumamku dalam hati. Aku beranikan diri bertanya
kepada ibu, dengan senyum ibu memberi penjelasan yang detail.
”Itu semua wajar dialami oleh perempuan yang sedang puber,” kata ibu.
”Apa itu puber Bu?” tanyaku.
”Masa puber adalah masa di mana terjadi peralihan seseorang dari anak-anak
menuju remaja. Nah, hal itu bisa dilihat dengan berbagai tanda-tanda secara fisik,
jika perempuan dia mengalami haid atau darah yang keluar secara rutin menurut
siklusnya sebulan sekali kemudian diiringi dengan membesarnya payudara, tumbuh
rambut di bagian tertentu, kemudian pinggul agak melebar serta terjadi perubahan
pada suara, yaitu terdengar agak parau.
”Apakah itu terjadi pada anak perempuan saja Bu…?” dengan cepat aku
menyela.
”Tidak,” kemudian ibu melanjutkan penjelasannya.
”Anak laki-laki pun mengalami hal itu, tetapi dengan tanda-tanda yang berbeda.
Biasanya ditandai dengan mimpi basah, tumbuh jakun pada lehernya, mulai muncul
pula kumis, dan suaranya berubah menjadi serak.”
”Oh begitu,” jawabku setelah mendengar penjelasan ibu.
”Oh iya Bu, satu lagi, kenapa to, kemarin pada waktu malam sebelum paginya
aku haid, kok perutku sakit sekali, padahal aku tidak makan rujak atau sambal pada
siang hari sebelumnya?” tanyaku lagi.
”Oh itu wajar terjadi pada perempuan yang belum menikah pada saat akan
terjadi haid. Haid itu sendiri adalah darah yang berada di indung telur, karena tidak
adanya pembuahan maka darah tersebut akhirnya luruh, dan memang karena jalan
keluarnya sempit maka timbullah gesekan pada perut sehingga menyebabkan sakit.
Jadi hal tersebut wajar terjadi pada setiap perempuan.”
”Terima kasih Bu ya…?”
Aku sekarang menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari Ibu.
(Sumber: Sundus, halaman 9-17 karya Istiah Marzuki)

Setelah kamu mendengarkan pembacaan kelanjutan novel berjudul Sundus tersebut,
dapatkah kamu mendeskripsikan alurnya? Alur sering kali disamakan dengan kerangka cerita.
Terdapat tiga teknik alur cerita, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (flash back), serta
alur majemuk (compound plot).
Novel Sundus bercerita tentang seorang wanita bernama Sundus. Sundus digambarkan
sebagai seorang remaja yang mempunyai disiplin dan prinsip serta taat beribadah. Namun
demikian, Sundus merupakan seorang pemberontak. Sundus tidak menyukai aturan-aturan
yang terlalu kaku dan mengikat. Dalam novel tersebut, Sundus tengah menceritakan
pengalamannya saat mengalami puber untuk pertama kalinya. Sundus menceritakan betapa
kaget dan takutnya saat mengalami puber pertama kali. Sundus juga memunculkan sosok
ibu yang menjaga dan memberi pengarahan padanya.

Bacalah dalam hati novel tersebut, lalu kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana kehidupan keluarga tokoh utama dalam novel tersebut?
2. Apa saja kelebihan tokoh utama novel tersebut?
3. Bagaimana perilaku tokoh utama ketika menjabat ketua OSIS di SMP?
4. Apakah masa puber itu?
5. Amanat apa yang bisa kamu petik dari cuplikan novel tersebut?

Terampil berbahasa Indonesia: untuk SMP/MTs kelas VIII/Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, Didik Durianto; editor Sutarto. —Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s