Menulis Rangkuman Isi Buku Pengetahuan

Populer

Menulis rangkuman merupakan upaya menyarikan sebuah teks atau bacaan. Jadi, merangkum sebuah buku adalah mengambil inti sari sebuah isi buku dan menuliskannya kembali menjadi catatan ringkas. Hal yang perlu kalian ingat bahwa sebuah rangkuman isinya mencakup keseluruhan teks atau buku yang dirangkum secara utuh dan lengkap, meski dalam penyajiannya lebih padat

dan ringkas. Jadi, dalam merangkum jangan sampai ada hal penting dari bacaan atau buku yang tidak terambil atau terangkum. Adapun yang dimaksud dari buku pengetahuan populer adalah buku yang berisi informasi mengenai pengetahuan yang sifatnya banyak diketahui oleh masyarakat secara umum. Dalam hal ini, sesuatu yang bersifat populer merupakan sesuatu yang sudah biasa diketahui atau akrab di lingkungan masyarakat secara umum. Buku

pengetahuan populer memiliki berbagai bidang pengetahuan, misal: peternakan, bisnis, kepribadian secara umum, dan pengetahuan lainnya. Adapun buku pengetahuan yang membahas mengenai disiplin ilmu tertentu secara spesifik dan detail bukan termasuk buku pengetahuan populer, akan tetapi merupakan buku kajian disiplin ilmu. Contoh buku kajian disiplin ilmu adalah buku mengenai anatomi tubuh manusia.

Perhatikanlah teks ilustrasi berikut berkaitan dengan rangkumanm buku pengetahuan populer!

Jelaskan latar cerita dari petikan novel tersebut yang meliputi latar tempat, waktu, dan suasana!

Tulislah hasil penjelasanmu di buku tugas!

Judul Buku : Anggur dalam Pot

Jumlah Halaman: 50 halaman

Penerbit : Penebar Swadaya

Cetakan : IV

Buku berjudul Anggur dalam Pot  ini memuat uraian mengenai cara

membudidayakan tanaman anggur di dalam pot atau kantong plastik. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa menanam anggur

memerlukan lahan yang luas serta perawatan yang sangat rumit. Pada  kenyataannya pandangan tersebut tidak tepat. Dalam buku berjudul Anggur dalam Pot ini dijelaskan bahwa sebenarnya pembudidayaan buah anggur tidaklah sesulit seperti pandangan banyak orang. Dalam buku ini dikemukakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembudidayaan tanaman anggur dalam pot atau kantong plastik. Hal-hal tersebut di antaranya meliputi seluk-beluk tanaman anggur beserta

jenis dan ciri-cirinya. Pada buku ini dikemukakan juga mengenai cara memilih bibit anggur yang baik, cara menyiapkan media tanam, serta cara perawatan selama pertumbuhan. Pada bab akhir dalam buku

ini dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan perawatan pohon anggur dewasa dari berbagai penyakit

Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam merangkum sebuah buku pengetahuan populer adalah berikut.

1. Membaca buku hingga memahami secara utuh dan lengkap.

2. Menuliskan pokok-pokok inti sari bacaan atau buku.

3. Menuliskan pokok-pokok tersebut menjadi rangkaian kalimat yang mudah dipahami.

4. Mencek dan ricek hasil rangkuman dengan isi buku untuk mengetahui rangkuman sudah lengkap atau belum.

Contoh butir-butir pokok yang penting untuk dicatat dari buku pengetahuan di atas adalah berikut.

1. Pohon anggur selain merupakan tanaman buah yang memiliki nilai jual tinggi juga merupakan tanaman hias.

2. Cara memilih dan memperoleh bibit yang baik.

3. Memilih pot yang baik, menyiapkan media tanam, serta memindahkan bibit anggur dalam pot.

4. Perawatan bibit anggur dengan cara penyiraman, pemberian tempat merambat, serta pemupukan.

5. Membentuk cabang dan ranting pendukung buah.

6. Merawat tanaman anggur agar produktif sepanjang tahun dengan cara pemangkasan.

7. Mengatasi serangan hama dan penyakit tanaman anggur.

Rangkuman buku berjudul Anggur dalam Pot berdasarkan butir-butir pokok yang terdapat dalam buku tersebut dapat kalian tuliskan sebagai berikut.

Buku berjudul Anggur dalam Pot ini memuat uraian mengenai cara membudidayakan tanaman anggur di dalam pot atau kantong plastik. Dalam buku ini dikemukakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembudidayaan tanaman anggur dalam pot atau kantong plastik. Hal-hal tersebut meliputi

pemilihan bibit anggur yang baik, cara menyiapkan media tanam, cara perawatan selama pertumbuhan, serta upaya mengatasi berbagai hama dan penyakit tanaman anggur.

Bacalah teks ilustrasi buku pengetahuan berikut dengan

cermat!

Judul Buku : Bertanam Cabai Rawitdalam Polybag

Jumlah Halaman : 56

Penerbit : Penebar Swadaya,Jakarta

Setiap lapisan masyarakat Indonesia pasti kenal dengan yang namanya cabai rawit. Tanaman yang satu ini seakan menjadi keperluan pokok setiap keluarga. Jadi, pantas jika permintaan terhadap cabai rawit ini selalu ada setiap harinya. Pada saat musim hujan, cabai rawit sangat mudah dijumpai dengan harga murah. Bagaimana pada saat

musim kemarau? Pada musim kemarau cabai rawit tidak mudah diperoleh, sehingga harganya mahal. Salah satu penyebab hal tersebut adalah penanaman cabai rawit di lahan pada musim kemarau menghasilkan buah yang sangat sedikit. Hal ini disebabkan akar tanaman buah tersebut sulit menembus tanah kering untuk mendapatkan air dan zat makanan. Salah satu cara mengantisipasi keadaan tersebut adalah penanaman cabai rawit dalam polybag atau kantung plastik. Dengan cara tersebut, cabai rawit segar dapat tersedia

setiap saat. Buku ini disusun agar pembaca dapat berusaha memenuhi keperluan cabai rawit bagi rumah tangga sendiri dengan memanfaatkan pekarangan. Dalam buku ini disampaikan cara menanam cabai rawit dalam polybag beserta cara perawatannya.Pembudidayaan cabai rawit disampaikan secara luas dan urut mulai dari penyiapan

bibit, media tanam, penanaman, dan seterusnya. Ulasan yang disampaikan dalam buku ini mudah dimengerti, sehingga dapat

digunakan oleh semua kalangan.

Kerjakanlah dengan cermat dan benar di buku tugasmu!

1. Catatlah butir-butir pokok yang terdapat dalam ilustrasi buku pengetahuan di  atas!

2. Buatlah rangkuman isi buku tersebut ke dalam sebuah

paragraf!

Kerjakan tugas berikut dengan cermat!

1. Bacalah salah satu buku pengetahuan populer!

2. Catatlah butir-butir pokok yang terdapat dalam buku tersebut!

3. Buatlah rangkuman isi buku tersebut ke dalam beberapa

paragraf!

Tulislah butir-butir pokok dan rangkuman isi dari buku tersebut di

buku tugas!

ilmu pengetahuan populer berjudul Memahami Diri Memompa Bakat. Kemudian, kamu akan memperoleh infomasi tentang cara menemukan arah cita-cita yang merupakan bagian penting dalam kehidupan seseorang.

Dalam pembelajaran sastra, kamu akan berlatih mendeskripsikan alur novel remaja dan menulis puisi bebas dengan persajakan. Jika kamu memiliki potensi di bidang penulisan karya sastra akan terasah dengan pembelajaran ini.

Bacalah kutipan buku ilmu pengetahuan populer di bawah ini! Tulislah pokok-pokok pikiran dalam beberapa kalimat!

Pada umumnya lebih mudah bagi anak-anak untuk belajar bersikap ramah tamah pada awal-awal tahun usia mereka. Apabila mereka sudah memperoleh pendidikan yang baik sejak dari semula, mereka akan memperdalam keterampilan diri dan rasa percaya diri sendiri dalam pergaulan dengan siapa saja Akan tetapi, apabila pada awalnya mereka tidak memperoleh bimbingan yang tepat, kita bisa memetik hasil watak yang tidak ramah. Setiap kegagalan dalam pergaulan mereka akan mengurangi rasa percaya diri. Sikap ramah-tamah pada dasarnya sikap kasih sayang terhadap orang lain. Pada dasarnya hasrat itu timbul dari dalam diri manusia sebagai makhluk sosial, yang senantiasa siap sedia untuk mengasihi orang lain.

(Sumber: Membina Watak Anak, Benyamin Spock

Buku ilmu pengetahuan populer saat ini banyak kita temui di perpustakaan maupun di toko buku. Peminat buku ini juga banyak dan beragam. Hal ini menandakan bahwa masyarakat umum sangat haus akan ilmu pengetahuan. Buku ilmu pengetahuan populer tersebut misalnya. Cara Beternak Ayam

Potong, Menanam Buah dalam Pot, Cara Mudah Membuat Masakan Rumah, Belajar Menyenangkan. Mungkinkah? Ternyata isi buku ilmu pengetahuan populer sangat beragam mulai dari kesehatan, teknologi modern, pertanian,

perkebunan, komputer, dan lain-lain. Bagaimana agar mudah memahami isi buku tersebut? Salah satu caranya dengan membuat rangkumannya atau

ringkasannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merangkum.

1. Bacalah kata-kata sulit.

2. Tandailah kata-kata sulit.

3. Hal-hal penting sebaiknya digaris bawahi.

4. Menentukan gagasan utamanya.

5. Merangkai beberapa pikiran utama menjadi paragraf baru.

Bacalah contoh wacana yang berisi pengetahuan populer berikut ini!

Jamu dan Rempah

Jamu adalah obat tradisional dan rempah adalah bumbu masak. Keduanya di peroleh dari bahan alami, yaiu tumbuhan. Sekitar sepuluh persen tumbuhan Indonesia bisa dijadikan obat dan banyak diantaranya yang bisa juga

dijadikan rempah atau bumbu penyedap masakan. Manfaat tumbuhan sebagai obat alami telah lama disadari banyak orang, khususnya pnduduk desa pedalaman yang terletak jauh dari puskesmas. Orang Daya di Kalimantan timur,

misalnya menggunakan daun jambu biji untuk mengobati sakit perut. Kumis kucing juga dikenal luas sebagai tanaman obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti ginjal, batuk, dan encok. Untuk mengobati penyakit, para peramu jamu dan dukun di indonesia umumnya menggunakan

berbagai jenis tumbuhan, antara lain kunyit, kencur, pala, jahe, dan lengkuas. Orang Daya Kenyah di Kalimantan mengenal 200- an tanaman obat.

Jamu

Jamu adalah obat yang dibuat dari tumbuhan obat, baik dari buah, bunga, daun, tangkai, akar maupun kulitnya. Diperkirakan ada sekitar 150 jenis tumbuhan yang sudah biasa digunakan sebagai bahan baku jamu. Konon, pada awalanya

jamu hanya dikonsumsi oleh kalangan wanita istana kerajaan Mataram (abad ke-17) agar mereka tetap cantik. Resep jamu dirahasiakan Namun sejak tahun 1930-an, sudah mulai dikembangkan jamu komersial, yang banyak dijajakan di kotakota di Jawa. Pada mulanya jamu berbentuk serbuk, namun kini ada juga yang dikemas dalam bentuk seperti tablet, kapsul, cairan, salep, param, pilis, dan tapal.

Rempah-Rempah

Rempah dalam arti luas adalah bahan yang berasal dari tumbuhan dan memberikan aroma dan rasa khusus pada makanan. Sebagian bahan rempah juga bisa digunakan sebagai bahan baku jamu dan kosmetik. Adapun rempah

dalam arti sempit adalah komoditas perdagangan (pala, cengkeh, lada, kayu manis), yang pada abad ke-17 menarik bangsa Eropa (misalnya VOC) untuk datang ke Indonesia serta menguasai perdagangannya, terutama di daerah

Maluku.

C. Menulis Rangkuman Buku Pengetahuan Populer

Buku pengetahuan populer merupakan buku yang sangat bermanfaat dalam menambah wawasanmu. Pada umumnya buku itu enak dibaca dan menyajikan hal-hal umum yang perlu kamu ketahui. Pada pembelajaran ini, kamu akan berlatih mencatat butir-butir pokok isi buku pengetahuan populer dan menulis rangkumannya. Aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi menulis rangkuman buku pengetahuan populer adalah (1) mencatat butir-butir pokok isi buku ilmu pengetahuan populer; (2) menyusun rangkuman sebuah buku ilmiah populer; (3) menilai rangkuman yang dibuat siswa, dan (4) mengerjakan latihan. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

Salah satu kunci seorang remaja agar sukses di masa mendatang adalah memahami perkembangan teknologi. Saat ini, kamu dikepung oleh berbagai teknologi, di antaranya komputer, internet, telepon seluler, pesawat terbang, pesawat ruang angkasa. Teknologi tersebut banyak manfaatnya. Dengan komputer, kamu bisa melakukan kegiatan mengetik karya ilmiah, mengetik tugas sekolah. Dengan internet, kamu bisa membaca segala informasi dan mencari bacaan yang kamu inginkan. Internet bisa membuatmu mengenal banyak teman di dunia, bisa berkirim e-mail (surat elektronika). Kamu juga bisa membaca, mengunduh materi-materi pelajaran, soal-soal ujian nasional, panduan soal-soal ujian sekolah, panduan soal-soal ujian sekolah yang disebarluaskan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Pada pelajaran ini diangkat tema teknologi agar kesadaran kamu tumbuh untuk lebih mengenal teknologi, di antaranya kamu memahami wacana tentang teknologi Salah satu kemahiran yang harus kamu capai saat melakukan kegiatan membaca adalah

mampu mengungkapkan kembali garis besar isi wacana baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam kesempatan ini, kamu akan belajar mengungkapkan kembali sebuah wacana melalui kegiatan menulis rangkuman. Istilah lain dari rangkuman ialah ringkasan. Merangkum atau meringkas merupakan cara yang efektif untuk menyajikan sebuah wacana yang panjang dalam bentuk yang singkat.

Cara yang bisa kamu pergunakan untuk membuat rangkuman sebagai berikut.

1. Membaca naskah

Bacalah naskah atau wacana yang akan kamu ringkas. Apabila dalam sekali baca kamu belum memahami isi wacana tersebut, bacalah lagi, kalau perlu diulang hingga beberapa kali.

2. Mencatat gagasan utama

Setelah membaca keseluruhan isi wacana, langkah selanjutnya ialah membaca

kembali setiap paragraf wacana tersebut untuk mencari gagasan utama tiap paragraf.

3. Merangkai gagasan-gagasan utama

Langkah terakhir yang kamu lakukan ialah merangkai gagasan-gagasan utama

tersebut menjadi sebuah rangkuman.

Berikut salah satu contoh rangkuman buku pengetahuan populer.

Cerdik Bermain Sudoku

Setiap dua minggu sekali di Yunior ada rubrik ”Sudoku”. Kamu menyukainya?

Hmm, saya juga. Tapi ada juga lho yang belum tahu bagaimana cara mengerjakannya. Nah, jika kamu termasuk yang belum tahu itu, kamu bisa membaca buku ini. Buku ini mengulas segala hal tentang sudoku, dari tingkat 1 sampai tingkat 9. Asyiknya lagi, ada kunci jawabannya sehingga kita bisa langsung mencocokkan apakah jawaban kita betul atau tidak.

Di bagian awal terdapat bab pendahuluan yang akan mengantar kita menuju dunia sudoku. Selanjutnya baru dijelaskan tentang beberapa cara dan trik dalam mengerjakan sudoku.

Setelah paham, kamu bisa mencoba mengerjakan soal-soal sudoku, dari tingkat 1 hingga tingkat 9. Ya, tentu saja semakin tinggi tingkatnya semakin sulit pula soalnya. Karena itu coba kerjakan yang tingkat terendah dulu. Jika sukses, silakan menuju ke level berikutnya.

Sumber: Suara Merdeka, 20 Januari 2008

1. Merangkum isi buku adalah …

a)      rangkaian pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara kepada narasumber

b)      pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata

c)      mengambil inti sari sebuah isi buku dan menuliskannya kembali menjadi catatan ringkas

d)      kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi (kata, kalimat, dsb.) dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda bacanya.

2. Berikut ini adalah hal-hal yang diperhatikan untuk merangkum buku :

i.            Mencek dan ricek hasil rangkuman dengan isi buku untuk mengetahui rangkuman sudah lengkap atau belum.

ii.            Membaca buku hingga memahami secara utuh dan lengkap.

iii.            Menuliskan pokok-pokok tersebut menjadi rangkaian kalimat yang mudah dipahami.

iv.            Menuliskan pokok-pokok inti sari bacaan atau buku.

Cara merangkum buku secara urut dan benar ialah …

a)  i), ii), iii), iv)

b)  ii), i), iii), iv)

c)  ii), iv), iii), i)

d)  iv), iii), ii), i)

3. Cara untuk menguasai kompetensi menulis rangkuman yang tepat adalah, kecuali …

a)      mencatat butir-butir pokok isi buku ilmu pengetahuan populer

b)      menyusun rangkuman sebuah buku ilmiah populer

c)      menilai rangkuman yang dibuat siswa

d)     mendata hasil pekerjaan teman

4. Polisi telah menetapkan J sebagai tersangka kasus pemotongan rel kereta api di Dusun Kramat, Grobogan, Jawa Tengah. Tersangka ini juga mengaku ikut menggergaji rel yang menyebabkan anjloknya KA Gumarang 12 Agustus silam.

Unsur why (mengapa) dalam wacana tersebut adalah ….

a)  J. sebagai tersangka

b)  pemotongan rel kereta api

c)  ikut menggergaji rel kereta api

d)  polisi menetapkan tersangka

5. Prestasi membanggakan ditorehkan pelajar SMP Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Bontang. Mereka adalah Anggita Nur Widya Febriana dan Rina Syarifah Salma. Anggita akan berlaga pada Olimpiade Sains (OSN) untuk bidang studi biologi di Surabaya. Sedangkan Rina akan berlaga pada event Story Telling tingkat nasional di Jakarta.

Ide pokok paragraf tersebut adalah….

a. pelajar SMP YPK berprestasi

b. Anggita Nur Widya Febriana dan Rina Syarifah Salma berprestasi

c. Anggita berlaga ke Surabaya

d. Rina berlaga ke Jakarta

1. Berikut ini merupakan pernyataan yang tepat mengenai alur adalah …

a)      lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa beberapa tokoh nyapada suatu waktu di suatu tempat.

b)      merupakan kegiatan mengolah sebuah tulisan dengan memperhatikan sistematika penyajian maupun bahasa tanpa mengubah isi tulisan.

c)       penjelasan yang disampaikan sebelum suatu pertunjukkan drama dimulai (pembukaan).

d)      merupakan jalinan peristiwa dalam karya-karya sastra yang ditampilkan untuk mencapai efek tertentu.

2. Dibawah ini merupakan jenis alur, kecuali …

a)      Alur maju

b)      Alur menengah

c)       Alur campuran

d)      Alur mundur

3. Pernyataan berikut yang tidak sesuai berkaitan dengan alur adalah ….

a)  alur didukung penggambaran latar

b)  alur merupakan perwujudan tema

c)  alur sering berwujud konflik

d)  alur akan menggerakkan tokoh

4. Perhatikan proses untuk mendeskripsikan alur novel di bawah ini !

i) menemukan penggalan novel yang disajikan menurut versi siswa

ii) mendeskripsikan jenis alur yang tertuang dalam novel tersebut

iii) menemukan konflik dalam novel

iv) mengerjakan latihan

Berikut adalah termasuk proses mendeskripsikan alur novel yang benar adalah ..

a)      ii), iii), iv)

b)      i), ii), iii)

c)       i), iii), iv)

d)      i), ii), iii), iv)

5. Perhatikan proses penahapan alur di bawah ini !

1)  Masalah memuncak : masalah mulai gawat

2)  Puncak ketegangan : masalah semakin rumit

3)  Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya,

tempat kejadian, dan waktu peristiwa.

4)  Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.

Pernyataan di atas yang tepat sesuai penahapan alur adalah..

a)  ii), iii), iv), i)

b)  i), ii), iii), iv)

c)  ii), i), iii), iv)

d) iii), iv), i), ii)

Materi
Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Alur merupakan jalinan peristiwa dalam karya sastra. Alur bertujuan menciptakan efek tertentu. Pautannya atau jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan waktu atau hubungan sebab
akibat. Penahapan Alur
a. Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya,
tempat kejadian, dan waktu peristiwa.
b. Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.
c. Masalah memuncak : masalah mulai gawat
d. Puncak ketegangan : masalah semakin rumit
e. Ketegangan menurun : masalah mulai mereda
f. Penyelesaian : permasalahan berakhir dengan
bahagia, sedih, atau mengambang.
Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas VIII/Maryati dan Sutopo — Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Untuk mendukung kegiatan itu, aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mendeskripsikan alur novel remaja yang diperdengarkan adalah (1) menemukan konflik dalam novel, (2) melanjutkan penggalan novel yang disajikan menurut versi siswa, dan (3) mengerjakan latihan. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

1. Menemukan Konflik dalam Novel
Bacalah penggalan novel berikut! Perhatikan bagian konflik yang disajikan!
Pada penggalan yang sedikit itu, kamu dapat melihat konflik antara ibu dan
anaknya, yang bernama Jani, tentang masalah mereka berdua. Kehadiran ibu yang tidak diharapkan oleh Jani membuat dirinya marah besar dan mengusir ibunya.
Sebenarnya, konflik dalam novel dapat berwujud konflik lahir dan dapat pula
berupa konflik batin. Pada contoh kutipan tersebut konflik yang disajikan adalah konflik lahir. Di situ pelaku yang sedang berkonflik hadir pada satu latar tertentu. Sementara itu, konflik batin dapat terjadi pada tokoh yang sedang memikirkan sesuatu tanpa harus berhadapan dengan tokoh lainnya.
Sekarang mintalah kawanmu membacakan lagi suatu penggalan novel yang di
dalamnya terdapat konflik. Dari penggalan itu, buatlah deskripsi tentang konflik yang
ada. Jelaskan pula apakah konflik tersebut termasuk konflik lahir atau batin!
”Ibu mau apa, sih, ke sini sekarang? Udah ngga’ ada gunanya, Bu! Lebih baik Ibu pergi aja,
deh dari sini. God, this is like a nightmare for me, l right know,” Jani menghela nafas dalam, masih
dalam ketidakpercayaan.
”Jani… komment pourriez-vous dire cela a moi?” wanita itu berusaha memegang tangan
Jani, namun Jani mengelak.
”Tega? Ibu bilang tega? Bu, dengar ya … Jangan ngebahas masalah tega deh sama saya.
Saya udah ngga’ kenal kata itu lagi, thanks to you.” Tanpa ia sadari air matanya telah bercucuran
keras. Sepertinya semua luka batin Jani yang selama ini ia pendam dan tutup-tutupi, perlahan
terbuka kembali.
“Anjani!” teriak ibu yang juga mulai menitikkan air matanya.
152 Kalo biasanya, anak cowok susah banget dekat sama bokapnya… Beda dengan keadaan gue
dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia juga
orangnya super cool and asyik abis. …

2. Melanjutkan Penggalan Novel menurut Versi Siswa
Pada bagian ini kamu akan berlatih membuat novel dengan cara melanjutkan
penggalan novel yang telah ada. Cara ini tidak sulit. Namun, agar ceritamu nanti
menarik, jangan lupa hadirkan konflik di dalamnya. Itu saja tidak cukup. Penghadiran
latar yang sesuai dengan isi cerita juga sangat penting. Nah, kalau seluruhnya sudah
tertampung di dalamnya, tinggal penyelerasian bahasanya. Jika bahasa yang digunakan dalam kutipan penggalan itu bahasa gaul, lanjutan ceritamu harus pula menggunakan gaya yang sama.
Sekarang, lakukanlah petunjuk tersebut dalam melanjutkan penulisan penggalan
novel berikut!

Untuk memberikan rangsangan yang berbeda, cobalah sekali lagi kawanmu yang lain diminta membacakan sebuah penggalan novel, selanjutnya lanjutkan penggalan tersebut dengan cara menuliskannya pada buku latihan!

Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4/Kisyani Laksono, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja

Tahukah kamu alur cerita? Alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang saling berhubungan. Tahapan alur adalah sebagai berikut.

a. Pengenalan (Eksposisi)
Tahap ini pengarang mengenalkan tokoh, setting, dan masalah yang dihadapi tokoh.
b. Timbulnya konflik
Tokoh mengalami konflik dalam memecahkan masalah.
c. Konflik memuncak (Rumitan)
Konflik tokoh bertambah rumit dan menajam.
d. Puncak masalah (Klimaks)
Konflik yang dialami tokoh mencapai titik puncak.
e. Pemecahan masalah (Konklusi)

Akhir sebuah cerita dengan nasib masing-masing tokoh. Tahapan-tahapan alur dalam cerpen tidak selalu urut sesuai tahapan di atas. Jika penyajiannya sesuai tahapan di atas disebut alur maju. Apabila cerita dimulai dari pemecahan masalah disebut alur mundur.

SETYORINI, Yulianti
Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII/Yulianti Setyorini,Wahono
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Menyimak dan Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Sebuah cerita selalu berawal dan akan berakhir. Peristiwa yang jalinmenjalin
dari awal sampai akhir disebut alur cerita atau plot. Sebagai rangkaian
sebuah peristiwa, alur menampilkan konflik-konflik, baik konflik besar maupun
konflik kecil. Dalam alur akan dijumpai penahapan alur sampai dengan puncakpuncak
konflik.

Konflik-konflik dalam alur dapat berupa konflik internal dan konflik
eksternal. Konflik internal (konflik batin) adalah konflik yang dirasakan dalam
diri seorang pelaku. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang
pelaku dengan pelaku lainnya. Konflik eksternal juga dapat terjadi antara
seorang pelaku dengan alam atau bahkan dengan Tuhannya.

Jika ditinjau dari cara mengakhiri cerita, terdapat dua jenis alur, yaitu alur
terbuka dan alur tertutup. Pada alur terbuka, akhir cerita itu masih menyisakan
pertanyaan dalam diri pembaca tentang bagaimana nasib pelaku atau tokoh
cerita itu. Cerita diakhiri dengan alur tertutup manakala cerita itu benar-benar
selesai tanpa menimbulkan pertanyaan lanjutan dalam diri pembaca.

Jika ditinjau dari suasana hati tokoh atau pelaku utama dalam akhir cerita,
alur dapat digolongkan menjadi dua, yaitu alur akhir bahagia (happy ending)
dan alur akhir duka (tragedy ending). Alur berakhir bahagia apabila pelaku
utama menemukan kebahagiaan pada akhir cerita, sedangkan alur berakhir
duka manakala tokoh utama menemui penderitaan atau bahkan kematian pada
akhir cerita.
Bahasa Indonesia 2: bahasa kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII/oleh Sarwiji Suwandi dan Sutarmo.— Cet.1.— Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan)
Sebagaimana kalian ketahui, bahwa alur atau plot memiliki
tiga jenis, yaitu berikut.
1. Alur maju, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita secara urut dari awal sampai akhir dengan urutan waktu yang terus maju. Misalnya kejadian pada bulan Januari, kemudian dilanjut dengan kisah pada bulan Februari, Maret, Juni, dan seterusnya hingga cerita berakhir.
2. Alur mundur, yaitu alur yang menyampaikan suatu jalinan cerita urutan waktu yang terkini hingga waktu yang paling lampau atau dari kisah yang terakhir hingga pada awal mula kejadian kisah tersebut. Misalnya novel itu diawali pada kisah yang Tujuan Pembelajaran terjadi bulan Desember, kemudian mengulas kisah bulan November, Oktober, dan seterusnya.
3. Alur maju mundur, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita dalam urutan waktu yang beragam atau sebagian beralur maju dan sebagian beralur mundur.
Berkaitan dengan kutipan novel yang kalian simak, kalian dapat menyimpulkan mengenai alur yang dibangun dalam kutipan novel tersebut. Secara umum alur pada kutipan tersebut merupakan jenis alur maju. Hal ini ditandai dengan perjalanan cerita yang berawal dari masa yang lampau menuju masa ke depan; yaitu menceritakan suatu kejadian pada hari Minggu yang diawali dari kejadian-kejadian pada hari Sabtu. Namun demikian, alur yang dibangun pada novel tersebut tidak secara keseluruhan merupakan alur maju. Ada sebuah kalimat yang menunjukkan adanya perjalanan cerita yang menuju ke waktu yang lampau. Artinya menunjukkan bahwa dalam cerita tersebut juga terdapat alur mundur. Kalimat yang menandakan hal tersebut adalah kalimat pertama dari kutipan yang menyatakan: Musim dingin jatuh pada suatu hari Minggu saat orang keluar dari gereja. Akan tetapi, kalimat selanjutnya justru mengisahkan cerita pada hari sebelumnya Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. ….
Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2 : Untuk SMP/MTs Kelas VIII/oleh Asep Yudha Wirajaya dan Sudarmawarti; editor Siti Aminah. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
C. Membaca Novel

Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur intrinsik
tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar kejadian atau
peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel. Alur terbagi
dalam tiga jenis, yaitu:
1. alur maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2. alur mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke
masa lalu,
3. alur campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan
dua macam alur di atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan tokoh yang menjadi pelaku
dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut mempunyai karakterisasi
masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas, pemalu dan
sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya.
Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar waktu,
dan latar suasana.
Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastram Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII/oleh Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

D. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan) yang Dibacakan

Mendeskripsikan alur suatu novel yang dibacakan bukanlah suatu hal yang mudah
dilakukan. Kegiatan tersebut jauh lebih sulit dibandingkan apabila novel tersebut kamu baca
sendiri. Ada tiga kegiatan yang kamu lakukan ketika mendeskripsikan alur novel yang
dibacakan, yaitu mendengarkan, memahami, dan mendeskripsikan alur. Kegiatan tersebut
membutuhkan konsentrasi tinggi sebab dilaksanakan secara bersamaan.
Untuk lebih memantapkan kemampuanmu dalam mendengarkan pembacaan novel,
berikut disajikan bagian kelanjutan novel berjudul Sundus.
Bahan simakan:
Sundus
Kedua
Namaku Sundusiyah, orang biasa memanggilku Sundus atau cukup dengan
Dus saja. Terdengar lucu memang. Tetapi apabila sering membaca al-Qur’an, di
dalamnya; orang tahu banyak sekali akan dijumpai kata sundusiyah artinya kurang
lebih adalah “sutera halus”. Mungkin orangtuaku berharap supaya aku berperilaku
sehalus sutera. Semoga. Amien.
Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat konservatif, teguh memegang
prinsip serta adat yang berlaku, yang menurutku terlalu kaku. Sejak kecil aku dididik
dengan sangat disiplin terutama dalam hal yang berhubungan dengan ibadah,
walaupun aku belum dikenai kewajiban karena memang aku belum mendapat haid.
Orangtuaku pada saat-saat tertentu selalu mengajakku ke musholla di samping
rumah. Belajar mengaji al-Quran setelah shalat Maghrib, kemudian mengaji kitab
kuning seusai sholat Isya’. Sesudah sholat Subuh pun aku diharuskan setor hafalan
surat-surat pendek dan surat-surat penting dalam al-Quran kepada ayahku. Bagiku
beliau adalah sosok ayah sekaligus guru yang sangat keras dalam mendidik serta
mengajar anak-anaknya.
Sekolah Dasar kulalui dengan prestasi yang membanggakan orangtuaku. Aku
selalu berada pada peringkat pertama di kelasku, aku tidak bisa menafikan peran
ibuku yang dengan telaten selalu memberiku minuman suplemen untuk kecerdasan
otak setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. Aku bahkan tidak sempat belajar
karena banyaknya kegiatan harian yang harus kulakukan. Belajar hanya kulakukan
ketika ada pekerjaan rumah dan ujian saja, tetapi walaupun begitu posisi juara selalu
ada di tanganku. Kata guru-guruku aku anak yang cerdas. Memang setiap kali guru
menerangkan, aku dengan saksama mendengarkan dan secara spontan akan bertanya
hingga sering membuat guruku gelagapan. Waktu bermain pun hampir tidak kupunyai,
masa kecilku bisa dibilang kurang bahagia. Sebagai contoh pernah aku bermain
sepulang sekolah dengan beberapa temanku, tidak begitu lama kemudian aku dijemput
oleh nenekku, diajak pulang dengan berbagai alasan: belajarlah, istirahat, dan yang
tidak paling aku sukai adalah membantu memasak. Masih terngiang kata-kata
nenekku “wong wedhok iku balike ning pawon.”
Jiwa berontakku sudah mulai muncul ketika aku Sekolah Menengah Tingkat
Pertama. Aku mulai berani memberikan argumen apabila ayahku menyuruhku
untuk berbuat sesuatu dengan nada tekanan. Ayah sering marah-marah karena
aku dianggap sudah mulai membantah, sering aku dibuat menangis, dan buntutnya
aku harus menanggung malu, ketika di sekolah mataku terlihat bengkak, akibat
tangisan semalam sebelum tidur. Memang sudah menjadi kebiasaanku, aku tidak
mau memperlihatkan airmata di depan ayahku, karena aku tidak ingin dibilang
sebagai anak manja dan cengeng, aku lebih memperlihatkan kekokohanku di depan
siapa pun, mungkin ini juga yang menyebabkanku dipilih menjadi ketua OSIS.
Aku semakin percaya diri, berprestasi dan yang paling aku sukai adalah aku jadi
ditakuti oleh semua laki-laki. Anak buahku mayoritas laki-laki dan aku mampu
menjadi leadership. Bangga memang, walaupun begitu ketika aku kembali ke
rumah aku harus bersikap dan bersifat sebagi anak manis yang selalu patuh
terhadap semua yang diinginkan ayahku.
Aku beranjak menjadi gadis remaja, hal ini kusadari ketika aku mulai kedatangan
tamu bulanan pertama. Malam itu seolah-olah ada sesuatu yang mengaduk-aduk
perutku, aku mencoba mengingat apakah aku salah makan seharian sehingga perutku
sakit sekali, sakit yang belum pernah aku rasakan. Aku jungkir balik sendiri, ingin
menjerit tetapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.
”Tuhan apakah aku akan mati?” batinku.
Hampir semalaman aku meregang kesakitan tanpa bisa berbuat banyak. Jam
tiga malam ibuku bangun ketika melewati kamarku, beliau melihat lampu kamarku
hidup, ibuku masuk untuk mematikannya, dilihatnya aku sedang merintih memegang
perut. Ibuku panik sekali, lalu membangunkan ayah dan entah setelah dibacakan
sesuatu oleh ayahku kemudian aku tertidur. Aku terkejut sekali ketika bangun,
alas tidurku dipenuhi dengan darah segar. Aku takut. Spontan aku menjerit, ibuku
kemudian datang dan langsung menciumku, ibu gembira sekali, lirih kudengar ibu
mengatakan, ”Anakku kini telah perawan.” Risih dan jijik aku melihat semburat
merah kehitaman yang kadang kental, namun di lain waktu juga encer. Ibu yang
mengajariku untuk memakai pembalut supaya tidak bocor. Walaupun demikian, aku
tetap saja waswas, sering kali aku menoleh ke belakang takut tembus, gaya jalanku
juga lain seolah-olah ada sesuatu ganjalan yang membuat jalanku menjadi sedikit
terkangkang. Oleh ibu, aku dinasihati: perempuan yang sedang haid tidak boleh
sholat dan puasa. Waktu itu aku gembira sekali, mendengar nasihat ibu yang satu
ini. ”Enak ya jadi perempuan,” pikirku.
Hampir satu minggu aku mengalami haid. Waktu-waktu berikutnya aku
memerhatikan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Tonjolan yang ada di dadaku
semakin hari kurasakan semakin membesar, pinggulku juga semakin lebar, bajubaju
yang kupakai mulai sempit.
”Oh Tuhan, apalagi ini,” gumamku dalam hati. Aku beranikan diri bertanya
kepada ibu, dengan senyum ibu memberi penjelasan yang detail.
”Itu semua wajar dialami oleh perempuan yang sedang puber,” kata ibu.
”Apa itu puber Bu?” tanyaku.
”Masa puber adalah masa di mana terjadi peralihan seseorang dari anak-anak
menuju remaja. Nah, hal itu bisa dilihat dengan berbagai tanda-tanda secara fisik,
jika perempuan dia mengalami haid atau darah yang keluar secara rutin menurut
siklusnya sebulan sekali kemudian diiringi dengan membesarnya payudara, tumbuh
rambut di bagian tertentu, kemudian pinggul agak melebar serta terjadi perubahan
pada suara, yaitu terdengar agak parau.
”Apakah itu terjadi pada anak perempuan saja Bu…?” dengan cepat aku
menyela.
”Tidak,” kemudian ibu melanjutkan penjelasannya.
”Anak laki-laki pun mengalami hal itu, tetapi dengan tanda-tanda yang berbeda.
Biasanya ditandai dengan mimpi basah, tumbuh jakun pada lehernya, mulai muncul
pula kumis, dan suaranya berubah menjadi serak.”
”Oh begitu,” jawabku setelah mendengar penjelasan ibu.
”Oh iya Bu, satu lagi, kenapa to, kemarin pada waktu malam sebelum paginya
aku haid, kok perutku sakit sekali, padahal aku tidak makan rujak atau sambal pada
siang hari sebelumnya?” tanyaku lagi.
”Oh itu wajar terjadi pada perempuan yang belum menikah pada saat akan
terjadi haid. Haid itu sendiri adalah darah yang berada di indung telur, karena tidak
adanya pembuahan maka darah tersebut akhirnya luruh, dan memang karena jalan
keluarnya sempit maka timbullah gesekan pada perut sehingga menyebabkan sakit.
Jadi hal tersebut wajar terjadi pada setiap perempuan.”
”Terima kasih Bu ya…?”
Aku sekarang menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari Ibu.
(Sumber: Sundus, halaman 9-17 karya Istiah Marzuki)

Setelah kamu mendengarkan pembacaan kelanjutan novel berjudul Sundus tersebut,
dapatkah kamu mendeskripsikan alurnya? Alur sering kali disamakan dengan kerangka cerita.
Terdapat tiga teknik alur cerita, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (flash back), serta
alur majemuk (compound plot).
Novel Sundus bercerita tentang seorang wanita bernama Sundus. Sundus digambarkan
sebagai seorang remaja yang mempunyai disiplin dan prinsip serta taat beribadah. Namun
demikian, Sundus merupakan seorang pemberontak. Sundus tidak menyukai aturan-aturan
yang terlalu kaku dan mengikat. Dalam novel tersebut, Sundus tengah menceritakan
pengalamannya saat mengalami puber untuk pertama kalinya. Sundus menceritakan betapa
kaget dan takutnya saat mengalami puber pertama kali. Sundus juga memunculkan sosok
ibu yang menjaga dan memberi pengarahan padanya.

Bacalah dalam hati novel tersebut, lalu kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana kehidupan keluarga tokoh utama dalam novel tersebut?
2. Apa saja kelebihan tokoh utama novel tersebut?
3. Bagaimana perilaku tokoh utama ketika menjabat ketua OSIS di SMP?
4. Apakah masa puber itu?
5. Amanat apa yang bisa kamu petik dari cuplikan novel tersebut?
Materi
Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Alur merupakan jalinan peristiwa dalam karya sastra. Alur bertujuan menciptakan efek tertentu. Pautannya atau jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan waktu atau hubungan sebab
akibat. Penahapan Alur
a. Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya,
tempat kejadian, dan waktu peristiwa.
b. Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.
c. Masalah memuncak : masalah mulai gawat
d. Puncak ketegangan : masalah semakin rumit
e. Ketegangan menurun : masalah mulai mereda
f. Penyelesaian : permasalahan berakhir dengan
bahagia, sedih, atau mengambang.
Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas VIII/Maryati dan Sutopo — Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Untuk mendukung kegiatan itu, aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mendeskripsikan alur novel remaja yang diperdengarkan adalah (1) menemukan konflik dalam novel, (2) melanjutkan penggalan novel yang disajikan menurut versi siswa, dan (3) mengerjakan latihan. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

1. Menemukan Konflik dalam Novel
Bacalah penggalan novel berikut! Perhatikan bagian konflik yang disajikan!
Pada penggalan yang sedikit itu, kamu dapat melihat konflik antara ibu dan
anaknya, yang bernama Jani, tentang masalah mereka berdua. Kehadiran ibu yang tidak diharapkan oleh Jani membuat dirinya marah besar dan mengusir ibunya.
Sebenarnya, konflik dalam novel dapat berwujud konflik lahir dan dapat pula
berupa konflik batin. Pada contoh kutipan tersebut konflik yang disajikan adalah konflik lahir. Di situ pelaku yang sedang berkonflik hadir pada satu latar tertentu. Sementara itu, konflik batin dapat terjadi pada tokoh yang sedang memikirkan sesuatu tanpa harus berhadapan dengan tokoh lainnya.
Sekarang mintalah kawanmu membacakan lagi suatu penggalan novel yang di
dalamnya terdapat konflik. Dari penggalan itu, buatlah deskripsi tentang konflik yang
ada. Jelaskan pula apakah konflik tersebut termasuk konflik lahir atau batin!
”Ibu mau apa, sih, ke sini sekarang? Udah ngga’ ada gunanya, Bu! Lebih baik Ibu pergi aja,
deh dari sini. God, this is like a nightmare for me, l right know,” Jani menghela nafas dalam, masih
dalam ketidakpercayaan.
”Jani… komment pourriez-vous dire cela a moi?” wanita itu berusaha memegang tangan
Jani, namun Jani mengelak.
”Tega? Ibu bilang tega? Bu, dengar ya … Jangan ngebahas masalah tega deh sama saya.
Saya udah ngga’ kenal kata itu lagi, thanks to you.” Tanpa ia sadari air matanya telah bercucuran
keras. Sepertinya semua luka batin Jani yang selama ini ia pendam dan tutup-tutupi, perlahan
terbuka kembali.
“Anjani!” teriak ibu yang juga mulai menitikkan air matanya.
152 Kalo biasanya, anak cowok susah banget dekat sama bokapnya… Beda dengan keadaan gue
dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia juga
orangnya super cool and asyik abis. …

2. Melanjutkan Penggalan Novel menurut Versi Siswa
Pada bagian ini kamu akan berlatih membuat novel dengan cara melanjutkan
penggalan novel yang telah ada. Cara ini tidak sulit. Namun, agar ceritamu nanti
menarik, jangan lupa hadirkan konflik di dalamnya. Itu saja tidak cukup. Penghadiran
latar yang sesuai dengan isi cerita juga sangat penting. Nah, kalau seluruhnya sudah
tertampung di dalamnya, tinggal penyelerasian bahasanya. Jika bahasa yang digunakan dalam kutipan penggalan itu bahasa gaul, lanjutan ceritamu harus pula menggunakan gaya yang sama.
Sekarang, lakukanlah petunjuk tersebut dalam melanjutkan penulisan penggalan
novel berikut!

Untuk memberikan rangsangan yang berbeda, cobalah sekali lagi kawanmu yang lain diminta membacakan sebuah penggalan novel, selanjutnya lanjutkan penggalan tersebut dengan cara menuliskannya pada buku latihan!

Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4/Kisyani Laksono, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

C. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja

Tahukah kamu alur cerita? Alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang saling berhubungan. Tahapan alur adalah sebagai berikut.

a. Pengenalan (Eksposisi)
Tahap ini pengarang mengenalkan tokoh, setting, dan masalah yang dihadapi tokoh.
b. Timbulnya konflik
Tokoh mengalami konflik dalam memecahkan masalah.
c. Konflik memuncak (Rumitan)
Konflik tokoh bertambah rumit dan menajam.
d. Puncak masalah (Klimaks)
Konflik yang dialami tokoh mencapai titik puncak.
e. Pemecahan masalah (Konklusi)

Akhir sebuah cerita dengan nasib masing-masing tokoh. Tahapan-tahapan alur dalam cerpen tidak selalu urut sesuai tahapan di atas. Jika penyajiannya sesuai tahapan di atas disebut alur maju. Apabila cerita dimulai dari pemecahan masalah disebut alur mundur.

SETYORINI, Yulianti
Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII/Yulianti Setyorini,Wahono
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Menyimak dan Mendeskripsikan Alur Novel Remaja
Sebuah cerita selalu berawal dan akan berakhir. Peristiwa yang jalinmenjalin
dari awal sampai akhir disebut alur cerita atau plot. Sebagai rangkaian
sebuah peristiwa, alur menampilkan konflik-konflik, baik konflik besar maupun
konflik kecil. Dalam alur akan dijumpai penahapan alur sampai dengan puncakpuncak
konflik.

Konflik-konflik dalam alur dapat berupa konflik internal dan konflik
eksternal. Konflik internal (konflik batin) adalah konflik yang dirasakan dalam
diri seorang pelaku. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang
pelaku dengan pelaku lainnya. Konflik eksternal juga dapat terjadi antara
seorang pelaku dengan alam atau bahkan dengan Tuhannya.

Jika ditinjau dari cara mengakhiri cerita, terdapat dua jenis alur, yaitu alur
terbuka dan alur tertutup. Pada alur terbuka, akhir cerita itu masih menyisakan
pertanyaan dalam diri pembaca tentang bagaimana nasib pelaku atau tokoh
cerita itu. Cerita diakhiri dengan alur tertutup manakala cerita itu benar-benar
selesai tanpa menimbulkan pertanyaan lanjutan dalam diri pembaca.

Jika ditinjau dari suasana hati tokoh atau pelaku utama dalam akhir cerita,
alur dapat digolongkan menjadi dua, yaitu alur akhir bahagia (happy ending)
dan alur akhir duka (tragedy ending). Alur berakhir bahagia apabila pelaku
utama menemukan kebahagiaan pada akhir cerita, sedangkan alur berakhir
duka manakala tokoh utama menemui penderitaan atau bahkan kematian pada
akhir cerita.
Bahasa Indonesia 2: bahasa kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII/oleh Sarwiji Suwandi dan Sutarmo.— Cet.1.— Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

A. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan)
Sebagaimana kalian ketahui, bahwa alur atau plot memiliki
tiga jenis, yaitu berikut.
1. Alur maju, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita secara urut dari awal sampai akhir dengan urutan waktu yang terus maju. Misalnya kejadian pada bulan Januari, kemudian dilanjut dengan kisah pada bulan Februari, Maret, Juni, dan seterusnya hingga cerita berakhir.
2. Alur mundur, yaitu alur yang menyampaikan suatu jalinan cerita urutan waktu yang terkini hingga waktu yang paling lampau atau dari kisah yang terakhir hingga pada awal mula kejadian kisah tersebut. Misalnya novel itu diawali pada kisah yang Tujuan Pembelajaran terjadi bulan Desember, kemudian mengulas kisah bulan November, Oktober, dan seterusnya.
3. Alur maju mundur, yaitu alur yang menyampaikan jalinan cerita dalam urutan waktu yang beragam atau sebagian beralur maju dan sebagian beralur mundur.
Berkaitan dengan kutipan novel yang kalian simak, kalian dapat menyimpulkan mengenai alur yang dibangun dalam kutipan novel tersebut. Secara umum alur pada kutipan tersebut merupakan jenis alur maju. Hal ini ditandai dengan perjalanan cerita yang berawal dari masa yang lampau menuju masa ke depan; yaitu menceritakan suatu kejadian pada hari Minggu yang diawali dari kejadian-kejadian pada hari Sabtu. Namun demikian, alur yang dibangun pada novel tersebut tidak secara keseluruhan merupakan alur maju. Ada sebuah kalimat yang menunjukkan adanya perjalanan cerita yang menuju ke waktu yang lampau. Artinya menunjukkan bahwa dalam cerita tersebut juga terdapat alur mundur. Kalimat yang menandakan hal tersebut adalah kalimat pertama dari kutipan yang menyatakan: Musim dingin jatuh pada suatu hari Minggu saat orang keluar dari gereja. Akan tetapi, kalimat selanjutnya justru mengisahkan cerita pada hari sebelumnya Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. ….
Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2 : Untuk SMP/MTs Kelas VIII/oleh Asep Yudha Wirajaya dan Sudarmawarti; editor Siti Aminah. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
C. Membaca Novel

Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur intrinsik
tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar kejadian atau
peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel. Alur terbagi
dalam tiga jenis, yaitu:
1. alur maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2. alur mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke
masa lalu,
3. alur campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan
dua macam alur di atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan tokoh yang menjadi pelaku
dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut mempunyai karakterisasi
masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas, pemalu dan
sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya.
Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar waktu,
dan latar suasana.
Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastram Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII/oleh Dwi Hariningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

D. Mendeskripsikan Alur Novel Remaja (Asli atau Terjemahan) yang Dibacakan

Mendeskripsikan alur suatu novel yang dibacakan bukanlah suatu hal yang mudah
dilakukan. Kegiatan tersebut jauh lebih sulit dibandingkan apabila novel tersebut kamu baca
sendiri. Ada tiga kegiatan yang kamu lakukan ketika mendeskripsikan alur novel yang
dibacakan, yaitu mendengarkan, memahami, dan mendeskripsikan alur. Kegiatan tersebut
membutuhkan konsentrasi tinggi sebab dilaksanakan secara bersamaan.
Untuk lebih memantapkan kemampuanmu dalam mendengarkan pembacaan novel,
berikut disajikan bagian kelanjutan novel berjudul Sundus.
Bahan simakan:
Sundus
Kedua
Namaku Sundusiyah, orang biasa memanggilku Sundus atau cukup dengan
Dus saja. Terdengar lucu memang. Tetapi apabila sering membaca al-Qur’an, di
dalamnya; orang tahu banyak sekali akan dijumpai kata sundusiyah artinya kurang
lebih adalah “sutera halus”. Mungkin orangtuaku berharap supaya aku berperilaku
sehalus sutera. Semoga. Amien.
Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat konservatif, teguh memegang
prinsip serta adat yang berlaku, yang menurutku terlalu kaku. Sejak kecil aku dididik
dengan sangat disiplin terutama dalam hal yang berhubungan dengan ibadah,
walaupun aku belum dikenai kewajiban karena memang aku belum mendapat haid.
Orangtuaku pada saat-saat tertentu selalu mengajakku ke musholla di samping
rumah. Belajar mengaji al-Quran setelah shalat Maghrib, kemudian mengaji kitab
kuning seusai sholat Isya’. Sesudah sholat Subuh pun aku diharuskan setor hafalan
surat-surat pendek dan surat-surat penting dalam al-Quran kepada ayahku. Bagiku
beliau adalah sosok ayah sekaligus guru yang sangat keras dalam mendidik serta
mengajar anak-anaknya.
Sekolah Dasar kulalui dengan prestasi yang membanggakan orangtuaku. Aku
selalu berada pada peringkat pertama di kelasku, aku tidak bisa menafikan peran
ibuku yang dengan telaten selalu memberiku minuman suplemen untuk kecerdasan
otak setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. Aku bahkan tidak sempat belajar
karena banyaknya kegiatan harian yang harus kulakukan. Belajar hanya kulakukan
ketika ada pekerjaan rumah dan ujian saja, tetapi walaupun begitu posisi juara selalu
ada di tanganku. Kata guru-guruku aku anak yang cerdas. Memang setiap kali guru
menerangkan, aku dengan saksama mendengarkan dan secara spontan akan bertanya
hingga sering membuat guruku gelagapan. Waktu bermain pun hampir tidak kupunyai,
masa kecilku bisa dibilang kurang bahagia. Sebagai contoh pernah aku bermain
sepulang sekolah dengan beberapa temanku, tidak begitu lama kemudian aku dijemput
oleh nenekku, diajak pulang dengan berbagai alasan: belajarlah, istirahat, dan yang
tidak paling aku sukai adalah membantu memasak. Masih terngiang kata-kata
nenekku “wong wedhok iku balike ning pawon.”
Jiwa berontakku sudah mulai muncul ketika aku Sekolah Menengah Tingkat
Pertama. Aku mulai berani memberikan argumen apabila ayahku menyuruhku
untuk berbuat sesuatu dengan nada tekanan. Ayah sering marah-marah karena
aku dianggap sudah mulai membantah, sering aku dibuat menangis, dan buntutnya
aku harus menanggung malu, ketika di sekolah mataku terlihat bengkak, akibat
tangisan semalam sebelum tidur. Memang sudah menjadi kebiasaanku, aku tidak
mau memperlihatkan airmata di depan ayahku, karena aku tidak ingin dibilang
sebagai anak manja dan cengeng, aku lebih memperlihatkan kekokohanku di depan
siapa pun, mungkin ini juga yang menyebabkanku dipilih menjadi ketua OSIS.
Aku semakin percaya diri, berprestasi dan yang paling aku sukai adalah aku jadi
ditakuti oleh semua laki-laki. Anak buahku mayoritas laki-laki dan aku mampu
menjadi leadership. Bangga memang, walaupun begitu ketika aku kembali ke
rumah aku harus bersikap dan bersifat sebagi anak manis yang selalu patuh
terhadap semua yang diinginkan ayahku.
Aku beranjak menjadi gadis remaja, hal ini kusadari ketika aku mulai kedatangan
tamu bulanan pertama. Malam itu seolah-olah ada sesuatu yang mengaduk-aduk
perutku, aku mencoba mengingat apakah aku salah makan seharian sehingga perutku
sakit sekali, sakit yang belum pernah aku rasakan. Aku jungkir balik sendiri, ingin
menjerit tetapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.
”Tuhan apakah aku akan mati?” batinku.
Hampir semalaman aku meregang kesakitan tanpa bisa berbuat banyak. Jam
tiga malam ibuku bangun ketika melewati kamarku, beliau melihat lampu kamarku
hidup, ibuku masuk untuk mematikannya, dilihatnya aku sedang merintih memegang
perut. Ibuku panik sekali, lalu membangunkan ayah dan entah setelah dibacakan
sesuatu oleh ayahku kemudian aku tertidur. Aku terkejut sekali ketika bangun,
alas tidurku dipenuhi dengan darah segar. Aku takut. Spontan aku menjerit, ibuku
kemudian datang dan langsung menciumku, ibu gembira sekali, lirih kudengar ibu
mengatakan, ”Anakku kini telah perawan.” Risih dan jijik aku melihat semburat
merah kehitaman yang kadang kental, namun di lain waktu juga encer. Ibu yang
mengajariku untuk memakai pembalut supaya tidak bocor. Walaupun demikian, aku
tetap saja waswas, sering kali aku menoleh ke belakang takut tembus, gaya jalanku
juga lain seolah-olah ada sesuatu ganjalan yang membuat jalanku menjadi sedikit
terkangkang. Oleh ibu, aku dinasihati: perempuan yang sedang haid tidak boleh
sholat dan puasa. Waktu itu aku gembira sekali, mendengar nasihat ibu yang satu
ini. ”Enak ya jadi perempuan,” pikirku.
Hampir satu minggu aku mengalami haid. Waktu-waktu berikutnya aku
memerhatikan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku. Tonjolan yang ada di dadaku
semakin hari kurasakan semakin membesar, pinggulku juga semakin lebar, bajubaju
yang kupakai mulai sempit.
”Oh Tuhan, apalagi ini,” gumamku dalam hati. Aku beranikan diri bertanya
kepada ibu, dengan senyum ibu memberi penjelasan yang detail.
”Itu semua wajar dialami oleh perempuan yang sedang puber,” kata ibu.
”Apa itu puber Bu?” tanyaku.
”Masa puber adalah masa di mana terjadi peralihan seseorang dari anak-anak
menuju remaja. Nah, hal itu bisa dilihat dengan berbagai tanda-tanda secara fisik,
jika perempuan dia mengalami haid atau darah yang keluar secara rutin menurut
siklusnya sebulan sekali kemudian diiringi dengan membesarnya payudara, tumbuh
rambut di bagian tertentu, kemudian pinggul agak melebar serta terjadi perubahan
pada suara, yaitu terdengar agak parau.
”Apakah itu terjadi pada anak perempuan saja Bu…?” dengan cepat aku
menyela.
”Tidak,” kemudian ibu melanjutkan penjelasannya.
”Anak laki-laki pun mengalami hal itu, tetapi dengan tanda-tanda yang berbeda.
Biasanya ditandai dengan mimpi basah, tumbuh jakun pada lehernya, mulai muncul
pula kumis, dan suaranya berubah menjadi serak.”
”Oh begitu,” jawabku setelah mendengar penjelasan ibu.
”Oh iya Bu, satu lagi, kenapa to, kemarin pada waktu malam sebelum paginya
aku haid, kok perutku sakit sekali, padahal aku tidak makan rujak atau sambal pada
siang hari sebelumnya?” tanyaku lagi.
”Oh itu wajar terjadi pada perempuan yang belum menikah pada saat akan
terjadi haid. Haid itu sendiri adalah darah yang berada di indung telur, karena tidak
adanya pembuahan maka darah tersebut akhirnya luruh, dan memang karena jalan
keluarnya sempit maka timbullah gesekan pada perut sehingga menyebabkan sakit.
Jadi hal tersebut wajar terjadi pada setiap perempuan.”
”Terima kasih Bu ya…?”
Aku sekarang menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari Ibu.
(Sumber: Sundus, halaman 9-17 karya Istiah Marzuki)

Setelah kamu mendengarkan pembacaan kelanjutan novel berjudul Sundus tersebut,
dapatkah kamu mendeskripsikan alurnya? Alur sering kali disamakan dengan kerangka cerita.
Terdapat tiga teknik alur cerita, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (flash back), serta
alur majemuk (compound plot).
Novel Sundus bercerita tentang seorang wanita bernama Sundus. Sundus digambarkan
sebagai seorang remaja yang mempunyai disiplin dan prinsip serta taat beribadah. Namun
demikian, Sundus merupakan seorang pemberontak. Sundus tidak menyukai aturan-aturan
yang terlalu kaku dan mengikat. Dalam novel tersebut, Sundus tengah menceritakan
pengalamannya saat mengalami puber untuk pertama kalinya. Sundus menceritakan betapa
kaget dan takutnya saat mengalami puber pertama kali. Sundus juga memunculkan sosok
ibu yang menjaga dan memberi pengarahan padanya.

Bacalah dalam hati novel tersebut, lalu kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana kehidupan keluarga tokoh utama dalam novel tersebut?
2. Apa saja kelebihan tokoh utama novel tersebut?
3. Bagaimana perilaku tokoh utama ketika menjabat ketua OSIS di SMP?
4. Apakah masa puber itu?
5. Amanat apa yang bisa kamu petik dari cuplikan novel tersebut?

Terampil berbahasa Indonesia: untuk SMP/MTs kelas VIII/Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, Didik Durianto; editor Sutarto. —Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Ringkasan Novel: AZAB DAN SENGSARA

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

AZAB DAN SENGSARA

(KISAH KEHIDUPAN SEORANG GADIS)

Pengarang : Merari Siregar

Penerbit : Balai Pustaka

Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan sengsara ini sebagai novel pertama di Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka. 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting.

Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungan nya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka-yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar-juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara, belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.

Ini ringkasannya

Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang kepala kampong yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat disekitar Sipirok amat segan dan hormat kepada keluarga itu. Adapun Mariamin, yang masih punya ikatan dengan keluarga itu, kini tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin almarhum, sebenarnya termasuk keluarga bangsawan kaya. Namun, karena semasa hidupnya terlalu boros dan serakah, ia akhirnya jatuh miskin dan meninggal dalam keadaan demikian.

Bagi Aminuddin, kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalanginya unuk tetap bersahabat dengan Mariamin. Keduanya memang sudah berteman akrab sejak kecil dan terus meningkat hingga dewasa. Tanpa terasa benih cinta kedua remaja itu pun tumbuh subur. Belakangan, mereka sepakat untuk hidup bersama, membina rumah tangga. Aminuddin pun berjanji hendak mempersunting gadis itu jika kelak ia sudah bekerja. Janji pemuda itu akan segera dilaksanakan jika ia sudah mendapat pekerjaan di Medan. Aminuddin segera mengirim surat kepada kekasihnya bahwa ia akan segera membawa Mariamin ke Medan.

Berita itu tentu saja amat menggermbirakan hati Mariamin dan ibunya yang memang selalu berharap agar kehidupannya segera berubah. Setidak-tidaknya, ia dapat melihat putrinya hidup bahagia.

Niat Aminuddin itu disampaikan pula kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak berkeberatan. Bagaimanapun, almarhum ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka, jika putranya kelak jadi kawin dengan Mariamin, perkawinan itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin itu.

Namun, lain halnya pertimbangan Baginda Diatas, Ayah Aminuddin. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurutnya, putranya lebih pantas kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Oleh karena itu, jika Aminuddin kawin dengan Mariamin, perkawinan itu sama halnya dengan merendahkan derajat dan martabat dirinya. Itulah sebabbya, Baginda Diatas bermaksud menggagalkan niat putranya.

Untuk tidak menyakiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajaknya pergi ke seorang dukun untuk melihat bagaimana nasib anaknya jika kawin dengan Mariamin. Sebenarnya, itu hanya tipu daya Baginda Diatas. Oleh karena sebelumnya, dukun itu sudah mendapat pesan tertentu, yaitu memberi ramalan yang tidak menguntungkan rencana dan harapan Aminuddin. Mendengar perkataan si dukun bahwa Aminuddin akan mengalami nasib buruk jika kawin dengan Mariamin, ibu Aminuddin tidak dapatberbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya.

Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga kaya yang menurut Baginda Diatas sederajat dengan kebangsawanan dan kekayaannya. Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuanya. Dengan penuh harapan, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin.

Selepas peminangan itu, ayah Aminuddin mengirim telegram kepada anaknya bahwa calon istrinya akan segera dibawa ke Medan. Ia juga meminta agar Aminuddin menjemputnya di stasiun.

Betapa sukacita Aminuddin setelah membaca telegram ayahnya. Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia membayangkan pula kerinduannya pada Mariamin akan segera terobati.

Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ternyata, ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bernama Siregar. Sungguhpun begitu, sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adat negerinya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa ayahnya. Perkawinan pun berlangsung dengan keterpaksaan yang mendalam pada diri Aminuddin. Berat hati pula ia mengabarkannya pada Mariamin.

Bagi Mariamin, berita itu tentu saja sangat memukul jiwanya. Harapannya musnah sudah. Ia pingsan dan jatuh sakit sampai beberapa lama. Tak terlukiskan kekecewaan hati gadis itu.

Setahun setelah peristiwa itu, atas kehendak ibunya, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya. Ibunya hanya tahu, bahwa Kasibun seorang kerani yang bekerja di Medan. Menurut pengakuan lelaki itu, ia belum beristri. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Belakangan diketahui bahwa lelaki itu baru saja menceraikan istrinya hanya karena akan mengawini Mariamin.

Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Namun rupanya, penderitaan wanita itu belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Inilah sebabnya, Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan intim dengannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga itu tak dapat dihindarkan. Hal yang dirasakan Mariamin bukan kebahagiaan, melainkan penderitaan berkepanjangan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam.

Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian itu, secara kebetulan, Aminuddin dating bertandang. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya.

Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin.

Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampong halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaay yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya. “Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad yang kasar itu.”

Making X-rays

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Where do x-rays come from?

An x-ray machine, like that used in a doctor’s or a dentist’s office, is really very simple. Inside the machine is an x-ray tube. An electron gun inside the tube shoots high energy electrons at a target made of heavy atoms, such as tungsten. X-rays come out because of atomic processes induced by the energetic electrons shot at the target.

X-rays are just like any other kind of electromagnetic radiation. They can be produced in parcels of energy called photons, just like light. There are two different atomic processes that can produce x-ray photons. One is called Bremsstrahlung, which is a fancy German name meaning “braking radiation.” The other is called K-shell emission. They can both occur in heavy atoms like tungsten.

So do both ways of making x-rays involve a change in the state of electrons?

That’s right. But Bremsstrahlung is easier to understand using the classical idea that radiation is emitted when the velocity of the electron shot at the tungsten changes. This electron slows down after swinging around the nucleus of a tungsten atom and loses energy by radiating x-rays. In the quantum picture, a lot of photons of different wavelengths are produced, but none of the photons has more energy than the electron had to begin with. After emitting the spectrum of x-ray radiation the original electron is slowed down or stopped.

What is the “K-shell” in the other way of making x-rays?

Do you remember that atoms have their electrons arranged in closed “shells” of different energies? Well, the K-shell is the lowest energy state of an atom.

What can the incoming electron from the electron gun do to a K-shell electron in a tungsten target atom?

It can give it enough energy to knock it out of its energy state. Then, a tungsten electron of higher energy (from an outer shell) can fall into the K-shell. The energy lost by the falling electron shows up in an emitted x-ray photon. Meanwhile, higher energy electrons fall into the vacated energy state in the outer shell, and so on. K-shell emission produces higher-intensity x-rays than Bremsstrahlung, and the x-ray photon comes out at a single wavelength. Have a look at both mechanisms in the experiment below.

How X-Rays are Emitted

Bremsstrahlung To see x-rays produced by Bremsstrahlung, click on the picture and press “B”. K-Shell Knockout To see an x-ray photon produced by K-shell knockout, click on the picture and press “K”.

By Kevin Korpi on February 9th, 2010

Google Japan - Riku Inoue & Brad EllisLast night at the monthly Tokyo 2.0 event, Google Mobile Product Managers  Riku Inoue & Brad Ellis from Google Japan, gave a presentation entitled Convergence and beyond.

In my opinion the most interesting part was during the Q&A session that followed, I asked if Google had plans to add people or face recognition to Google Goggles? This would be possible since: Picassa has face recognition, Flickr has added people tagging, and of course Facebook has support for tagging people in photos.

Riku and Brad’s response was Google has person recognition working in a Google internal build of Goggles, but the feature was removed in the publicly released version due to privacy concerns.

However they also said, Google hasn’t given up on the feature and are trying to find the right approach to make sure people’s privacy is taken into account. When they do, the People recognition feature will be added to the public version of Goggles.

The 14 min. Google Japan presentation can be watched below in full (presentation is in english and Japanese. Apologies if the video quality isn’t good at times, this was recorded with my N97.)